Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 08 Februari 2011

Skripsi BAB III


BAB III

STRUKTUR DAN I’RAB SIFAT MAUSUF


A.    Pengartian Sifat dan Mausuf Sebagai Analisis Fungsi Bahasa Dalam Bahasa Arab
Sifat dan Mausuf meupakan persamaan dari Na’at dan Man’ut, dan untuk lebih memudahkan kajian, maka dalam Skripsi ini, pengkaji akan memakai Qaidah Sifat dan Mausuf. Namun untuk sampai kepada pengertian yang sebenarnya, ternyata jarang ada batasan yang sama antara ahli (Ulama’) Nahwu yang satu dengan Ulama’ Nahwu yang lain.
Sehubungan dengan hal tersebut, berikut akan dikemukakan batasan-batasan pengertian Sifat dari berbagai ahli Nawu seperti di bawah ini :
Di dalam kitab Taswik Al-Khallan, dijelaskan menurut bahasa bahwa “Sifat adalah menSifati sesuatu dengan apa yang ada padanya, baik atau buruk“. (Ma’sum, : -:163).
Contoh :
ﺠﺎﺀﺰﻳﺪﺍﻠﻌﺎﻗﻞ
Sedangkan didalam Kitab Syarah Ibnu Aqil, Juzu’ At-Sani dijelaskan bahwa, ”Sifat adalah kata yang menyempurnakan kata sebelumnya dengan bentuknya sendiri atau dengan isim (kalimat yang berhubungan dengannya)“. (Abdullah, - :163 ).
Contoh :
ﻤﺭﺭﺖ ﺒﺭﺠﻞ ﻜﺭﻴﻡ
ﻤﺭﺭﺖ ﺒﺭﺠﻞ ﻜﺭﻴﻡﺍﺒﻮﻩ
Sementara di dalam Kitab Jami’uddurus dijelaskan bahwa, “Sifat adalah Kata Sifat yang disebut setelah Kata Benda (ﺍﺴﻢ) untuk menjelaskan sebagian keadaannya (ﺍﺴﻢ) atau keadaan apa yang berhubungan dengannya (ﺍﺴﻢ) “.  (Al-Galyani : 1987 : 221 ).
Contoh :
ﺟﺎﺀﺍﻟﺗﻟﻣﻳﺬﺍﻟﻣﺟﺗﻬﺪ
ﺟﺎﺀ ﺍﻠﺗﻟﻣﻳﺬ ﺍﻟﻣﺟﺗﻬﺪﺍﺧﻭﻩ
Berdasarkan batasan-batasan pengertian di atas maka, yang dimaksud dengan Sifat dalam kajian ini adalah Kata Sifat yang mengikuti yang disifatinya (Mausuf) untuk menjelaskan dan menyempurnakan sebagian keadaan Mausufnya, baik pada I’rab, Ma’rifat, Nakirah, maupun pada Mufrad, Jumlah dan Syibhul Jumlah.
Dan di dalam Kitab Jami’uddurus dijelaskan bahwa , ”Mausuf adalah isim yang menunjukkan atas zat sesuatu dan hakekatnya. Dan dia ditempatkan untuk dibebani atasnya Sifat “. (Al-Galyani, 1987 : 97).
Berdasarkan batasan pengertian di atas, yang dimaksud dengan mausuf dalam Skripsi ini adalah Isim yang menunjukkan atas zat sesuatu dan hakekatnya, dan diikuti oleh kalimat yang menunjukkan makna Sifat kepada isim tersebut baik pada I’rab, Ma’rifat, Nakirah, maupun pada Mufrad, jumah dan Sibhul Jumlah.






Dan dipandang perlu dalam Skripsi ini. Bahwa bahwa pengkaji akan memaparkan  beberapa hal yang sangat mendasar dalam skripsi ini :
1.      Persamaan Dan Perbedaan Sifat Dan Na’at.
Dijelaskan diberbagai kitab Nahwu, bahwa Sifat dan Na’at memiliki makna yang sama yaitu mengikuti sesuatu, akan tetapi, Na’at lebih dikhususkan kepada yang berubah–ubah seperti kata ﺏﺭﺎﻀ, ﻢﺌﺎﻗ . Sedangkan Sifat tidak dikhususkan kepada yang berubah–ubah. Bahkan secara umum, boleh dipakai pada yang berubah–ubah dan  boleh dipakai kepada yang tidak berubah–ubah seperti kata ﻡﻟﺎﻋ , ﻦﺳﺤ  .
Dan mengenai perbedaan antara Sifat dan Na’at, dijelaskan di dalam kitab Syaikh Kholid bahwa :
-          Sifat adalah lafaz –lafaz yang semakna dengan apa yang berlaku sebenarnya.
Contah : ﻪﻟﻟﺍﻖﺎﺼﻮﺍ / Sifat – Sifat Allah dan disini kita bilang Sifat–Sifat Allah  bukan Na’at –na’at Allah.
Dalam bahasa sifat berperan sebagai kata (kata sifat) dan sebagai fungsi (tataran fungsi bahasa)
-          Na’at adalah lafaz–lafaznya yang dikhususkan kepada yang berubah–ubah.
Contoh :
ﺐﺮﺎﻀ  ,  ﻡﺌﺎﻗ
Na’at hanya bermakna sama dengan sifat sebagai fungsi bahasa.
Contoh :
ﻫﺬﺍﻤﺣﻣﺪﺍﻟﻜﺎﻤﻞ

2.      Penggunaan Sifat ( Na’at )
Di dalam kitab – kitab Nahwu, dijelaskan bahwa ada 5 tempat digunakan Sifat.
a)       Untuk Mengkhususkan ( ﺺﻳﺼﺧﺘﻟﻟ )
Contoh :
ﻁﺎﻳﺤﻠﺍﺪﻳﺰﺑ ﺖﺭﺭﻣ
b)      Untuk Memuji (ﻠﻠﻤﺩﺡ)
Contoh :
ﻫﺬﺍﻤﺣﻣﺪﺍﻟﻜﺎﻤﻞ
ﺒﺴ١١ﻟﺮﺣﻤﻥ١ﻟﺮﺣﻴﻢ
c)       Untuk Merendahkan / Melecehkan  (ﻠﻠﺬﻢ)
Contoh :
ﺬﺍﻠﻚﺍﻟﺭﺟﻝﺍﻟﺒﺧﻞ
ﺍﻋﻮﺬﺑﺎﺍﷲﻤﻦﺍﻠﺷﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺟﻴﻢ
d)      Untuk Menghormati (ﺍﻠﺗﺭﺣﻢ)
Contoh :
ﺍﻠﻠﻬﻢ ﺮﻔﻗﺎ ﺒﻌﺒﺪﻚ ﺍﻠﻤﺴﻜﻴﻦ
e)       Untuk Menguatkan (ﻠﻠﺗﻮﻜﻴﺪ)
Contoh :
ﺍﻤﺲ ﺍﻠﺪﺍﺒﺮﻻﻴﻌﻮﺪ
ﻔﺗﻠﻚ ﻋﺷﺮﺓ ﻜﺎﻤﻠﺔ


B.     Bentuk – Bentuk Kata Sifat

Di dalam kitab – kitab Nahwu dijelaskan bahwa pada dasarnya Na’at (Sifat) itu. Terjadi dari  Isim Mustak yaitu Isim yang diambil dari Masdar untuk menujukkan satu tujuan dan yang mempunyai Sifat.
Isim Mustah meliputi
1.         Isim Fa’il yaitu Sifat yang diambil dari Fi’il Ma’lum, untuk menunjukkan atas makna yang berpengaruh dari Mausuf dengannya atau yang berdiri  atas bentuk–bentuk kejadian yang tidak kuat / tetap. Dan Isim Fa’il ini mempunyai dua timbangan :
a.       Timbangan dari At–Sulasi Al–Mujarrad
Dan terjadi dari At–Sulasi Al–Mujarrad atas timbangan ﻝﻋﺎﻔ.
Contoh :
ﻜﺎﺗﺐ
,
ﺠﺎﺀﺰﻴﺪﺍﻠﻜﺎﺗﺐ
Dan apabila ‘Ain Fiil berillat, maka diganti ‘Ain Fiil tersebut dengan hamzah pada Isim Fa’il.
Contoh :   ﺑﺎﻉ menjadi ﺒﺎﺌﻊ
ﺭﺃﻴﺖ ﺰﻴﺪﺍ ﺍﻠﺒﺎﺌﻊ

b.       Timbangan Dari Selain At–Sulasi  Al–Mujarrad
Dan yang di maksud timbangan selain dari At-Sulasi Al-Mujarrad adalah Isim Fail yang terdiri dari At-Sulasi Al-Mazid dan Al-Ruba’i Mujarrad atau Mazid.

Contoh At-Sulasi Al-Mazid
-    Timbangan   ﻔﻌﻞ dengan menambahkan tasydid.
Contoh :
ﻔﺭﺡ  ﻔﻬﻮ   ﻤﻔﺭﺡ
ﻔﻌﻞ     ﻔﻬﻮ     ﻤﻔﻌﻞ
-    Timbangan  ﻔﺎﻋﻞ dengan menambahkan Alif.
Contoh :
ﻗﺎﺗﻞ  ﻔﻬﻮ  ﻤﻗﺎﺗﻞ
ﻔﺎﻋﻞ  ﻔﻬﻮ  ﻤﻔﺎﻋﻞ
ﺠﺎﺀﺰﻴﺪﻤﻗﺎﺗﻞﻋﻤﺭﺍ
-    Timbangan  ﺗﻔﻌﻞ dengan menambahkan Ta’ dan Tasydid
Contoh :
ﺠﺎﺀﺍﻻﺴﺗﺎﺬﺍﻠﻤﺗﺒﻴﻦﺍﻠﺪﺮﺲ
ﺗﻔﻌﻞ  ﻔﻬﻭ  ﻤﺗﻔﻌﻞ
ﺗﺒﻴﻦ  ﻔﻬﻭ  ﻤﺗﺒﻴﻦ
-    Timbangan ﺍﻔﺗﻌﻞ dengan menambah Alif dan Ta’
Contoh :
ﺠﺎﺀﺰﻳﺪﺍﻠﻤﺠﺗﻤﻊﺍﻠﻗﻭﻢ
ﺍﻔﺗﻌﻞ  ﻔﻬﻭ  ﻤﻔﺗﻌﻞ  
ﺍﺠﺗﻤﻊ  ﻔﻬﻭ  ﻤﺠﺗﻤﻊ
-    Timbangan ﺍﻧﻓﻌﻞ dengan menambahkan Hamzah dan Nun di awalnya.
Contoh :
ﺟﺎﺀ ﻋﻣﺮ ﺍﻟﻣﻧﻗﻄﻊ ﺍﻜﺎﻓﺮ

ﺍﻧﻓﻌﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻧﻓﻌﻞ
ﺍﻧﻗﻄﻊﻓﻬﻭﻣﻧﻗﻄﻊ
-    Timbangan  ﺍﻓﻌﻞ dengan menambahkan Hamzah Wasal dan mentasydid Lam.
Contoh :
ﷲ ﺬﺍﻟﻚ ﺍﻟﻬﺟﺮ ﺍﻟﻣﺴﻭﺪ

ﺍﻓﻌﻞﻓﻬﻭﻣﻓﻌﻞ
ﺍﺴﻭﺪﻓﻬﻭﻣﺴﻭﺪ
-    Timbangan ﺍﺴﺗﻓﻌﻞ dengan menambahkan Hamzah Wasal Sin dan Ta’
Contoh :
ﺪﻋﻭﺓ ﺍﻟﻰﺍﷲ ﺍﻟﻣﺴﺗﻐﻓﺮﺍﻟﺬﻧﻭﺐ

ﺍﺴﺗﻓﻌﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﺴﺗﻓﻌﻞ
ﺍﺴﺗﻐﻓﺮﻓﻬﻭﻣﺴﺗﻐﻓﺮ
-    Timbangan ﺍﻓﻌﻭﻋﻞ dengan menambahkan Hamzah Al-Wasal dan menggandakan ‘Ain yang diantaranya Huruf Waw.
Contoh:
ﺮﺃﻳﺖ ﻣﺤﻣﺪﺍ ﺍﻟﻣﺤﺪﻭﺪﺐ ﻓﻰ ﻄﻟﺐ ﺍﻟﻌﻟﻢ
ﺍﻓﻌﻭﻋﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻭﻋﻞ
ﺍﺤﺪﻭﺪﺐ ﻓﻬﻭ ﻣﺤﺪﻭﺪﺐ
-    Timbangan ﺍﻓﻌﺎﻞ dengan menambahkan Hamzah Al-Wasal dan Alif setelah ‘Ain dan memberikan tasydid kepada huruf Lam.
Contoh :
ﺍﻜﻟﺖ ﺍﻟﻣﻭﺮ ﺍﻟﻣﺼﻓﺎﺮ
ﺍﻓﻌﺎﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﺎﻞ
ﺍﺼﻓﺎﺮﻓﻬﻭﻣﺼﻓﺎﺮ
-    Timbangan ﺍﻓﻌﻭﻞ dengan menambahkan Hamzah Al-Wasal dan dua Waw setelah Alif.
Contoh :
ﺷﻌﺎﻉ ﺍﻠﺷﻣﺲ ﻣﺧﺮﻭﻄ
ﺍﻓﻌﻭﻞ  ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻭﻞ
ﺍﺧﺮﻭﻄ ﻓﻬﻭﻣﺧﺮﻭﻄ


Timbangan Selain At-Sulasi Al-Mujarrad Yaitu:

1.         Ruba’i Al-Mujarrad

Ruba’i Al-Mujarrad memiliki Tujuh Bab yaitu :
-    Timbangan  ﻓﻌﻟﻞ
Contoh :
ﻓﻌﻟﻞ ﻓﻬﻭﻣﻓﻌﻟﻞ
ﺠﻟﺒﺐ ﻓﻬﻭﻣﺠﻟﺒﺐ
-    Timbangan ﻓﻭﻋﻞ
Contoh :
ﻓﻭﻋﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻭﻋﻞ
ﺤﻭﻗﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﺤﻭﻗﻞ
-    Timbangan ﻓﻳﻌﻞ
Contoh :
ﻓﻳﻌﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻳﻌﻞ
ﺒﻳﻄﺮ ﻓﻬﻭ ﻣﺒﻳﻄﺮ
-    Timbangan ﻓﻌﻭﻞ
Contoh :
ﻓﻌﻭﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻭﻞ
ﺠﻬﻭﺮ ﻓﻬﻭ ﻣﺠﻬﻭﺮ
-    Timbangan ﻓﻌﻳﻞ
Contoh :
ﻓﻌﻳﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻳﻞ
ﺷﺮﻳﻕ ﻓﻬﻭ ﻣﺷﺮﻳﻕ
-    Timbangan ﻓﻌﻠﻰ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻞ

ﺷﻠﻗﻰ ﻓﻬﻭ ﻣﺷﻠﻕ
-    Timbangan ﻓﻌﻧﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻧﻞ

ﻓﻠﻧﺲ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻠﻧﺲ


2.         Ruba’i Mazid

-    Timbangan ﺗﻓﻌﻠﻞ

ﺗﻓﻌﻠﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﺗﻓﻌﻠﻞ
ﺗﺪﺧﺮﺝ ﻓﻬﻭ ﻣﺗﺪﺧﺮﺝ
-    Timbangan ﺍﻓﻌﻧﻠﻞ

ﺍﻓﻌﻧﻠﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻧﻠﻞ
ﺍﺧﺮﻧﺟﻢ ﻓﻬﻭ ﻣﺧﺮﻧﺟﻢ
-    Timbangan ﺍﻓﻌﻠﻞ

ﺍﻓﻌﻠﻞ ﻓﻬﻭ ﻣﻓﻌﻠﻞ
ﺍﻄﻣﺄﻦ ﻓﻬﻭ ﻣﻄﻣﺄﻦ

2.         Isim Maf’ul yaitu Isim Sifat yang diambil dari Fi’il Majhul untuk menunjukkan kejadian yang berpengaruh terhadap Mausuf dengannya atas bentuk-bentuk kejadian dan menjadi baru.

Dan Isim Maf’ul kalau dibuat dari At-Sulasi Mujarrad, maka timbangannya adalah seperti ﻣﺤﺬﻭﻞ , ﻣﻧﺼﻭﺮ.
Contoh :
ﻫﺬﺍﺍﻠﺮﺠﻞﺍﻠﻣﻧﺼﻭﺮﺰﻴﺪ
-          Apabila Fi’il Assulasi, ada di tengahnya huruf illat yaitu alif, seperti ﺒﺎﻉ,ﻋﺎﺏ,ﺸﺎﺪ , maka isim mafulnya adalah ﻤﺒﻴﻊ,ﻣﻌﻴﺐ,ﻤﺸﻴﺩ
Contoh : ﺠﺎﺀ ﺭﺠﻝﻣﺒﻴﻊﺍﻠﻜﺘﺎﺏ                                                          
-          Apabila fi’il assulasi, ada di tengahnya huruf illat yaitu alif yang sebenarnya waw seperti ﻘﺎﻞ,ﻻﻢ,ﺼﺎﻥ Maka isim maf’ulnya adalah ﻤﻘﻮﻞ,ﻣﻠﻮﻢ,ﻣﺼﻮﻥ
Contoh : ﻗﺎﻞﺍﻠﺭﺠﻞﺍﻠﻤﻘﻮﻞﺍﻠﻘﻮﻞ                                                         
-          Apabila Fi’il Assulasi, ada di akhirnya huruf illat yaitu alif yang sebenarnya ya’ seperti ﺒﻧﻰ, ﺭﻤﻰ, ﺭﺿﻰ Maka isim maf’ulnya adalah ﻤﺒﻧﻲ, ﻣﺮﻤﻲ, ﻤﺭﻀﻲ
Contoh : ﺬﻫﺏﺍﻟﻃﺎﻠﺐﺍﻠﻤﺭﺿﻲﺍﻻﺴﺗﺎﺫ                                                 
-          Apabila Fi’il Assulasi, ada di akhirnya huruf illat yaitu alif yang sebenarnya waw seperti ﺩﻋﺎ, ﺮﺠﺎ, ﺸﻜﺎ Maka Isim Maf’ulnya adalah ﻤﺩﻋﻮ, ﻣﺭﺠﻭ, ﻤﺸﻜﻮ
Contoh : ﻜﺭﻡﺭﺟﻼﻣﺪﻋﻮﺍﻠﻪ                                                             

Dan apabila dibuat dari At-Sulasi Mujarrad, dengan lafaz Mudaroah Majhul maka diganti dengan Hurup Mim yang baris dapan.
Contoh :
ﺍﺳﺘﻐﻓﺮﻓﻬﻭﻣﺳﺘﻐﻓﺮ
ﻫﺫﺍ ﺍﻠﻌﺒﺪﺍﻠﻣﺳﺘﻐﻓﺮ ﺍﻠﺫﻧﻭﺏ


3.         Sifat Musabahah adalah kata Sifat yang diambil dari Fi’il Lazim untuk menunjukkan makna yang berdiri dengan Mausufnya atas bentuk .
Contoh :
ﻜﺮﻴﻢ  , ﺣﺳﻦ
ﺠﺎﺀ ﺯﻴﺪﺣﺳﻦ ﺧﻠﻗﻪ


4.         Isim Tafdil yaitu kata yang diambil dari Fi’il untuk menunjukkan atas dua sesuatu yang bersatu pada Sifat, dan ada kelebihan salah satu dari keduanya atas yang lain padanya .
Contoh :
ﺧﻠﻴﻞ ﺍﻋﻠﻢ ﻤﻦﺳﻌﻴﺪ ﻭﺍﻓﺿﻞ ﻤﻧﻪ
Dan kadang–kadang Isim tafdil diantara dua sesuatu (Isim) menjadi Sifat yang Muhalafah .
Contoh :
ﺍﻜﺭﻤﺖ ﺍﻠﻗﻭﻢ ﺍﺼﻐﺭﻫﻢ ﻭﺍﻜﺒﺭﻫﻢ
Wazan (Timbangan) Isim Tafdil itu ada satu yakni                     ﺍﻔﻌﻞ Untuk laki-laki ﻓﻌﻠﻰ Untuk perempuan.
Contoh :
ﺍﻓﺿﻞ  ﻓﺿﻠﻰ
ﺍﻜﺒﺭ   ﻜﺒﺭﻯ
Dan ada 3 kata, tempat boleh dibuang Alif pada timbangan Isim Tafdil yaitu  :
ﺧﻳﺭ ﻣﺛﻞ ﺧﻳﺭ ﺍﻠﻧﺎﺲ ﻣﻦ ﻳﻧﻓﻊ ﺍﻠﻧﺎﺲ
ﺷﺭ ﻣﺛﻞ ﺷﺭﺍﻠﻧﺎﺲ ﺍﻠﻣﻓﺴﺪ
ﺤﺐ ﻣﺛﻞ ﺤﺏﺸﺊﺍﻠﻰﺍﻻﻧﺴﺎﻦﻤﺎﻣﻧﻌﺎ

Dan kadang – kadang Sifat itu terbuat dari jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah, dan ini akan dijelaskan pada Bab  dengan judul Pembagian Sifat Sebagai Analisis Fungsi Bahasa Dalam Bahasa Arab.
Kadang Na’at itu terdiri dari Isim Jamid yang dipindahkan dari Isim Mustak
Isim jamid yang dipindahkan dari isim mustak itu meliputi :
1.      Al-Masdar yaitu lafaz yang menunjukkan atas kejadian yang sunyi dari waktu dan mengandung huruf-huruf fi’il secara lafaz atau takdir.
Contoh :
ﻫﻮ ﺮﺟﻞ ﺜﻗﺔﺍﻯ ﻣﻮﺜﻮﻕ ﺒﻪ
ﺍﻧﺖ ﺮﺟﻞ ﻋﺪﻞ ﺍﻯ ﻋﺎﺪﻞ
2.      Isim Al-Isyarah adalah Isim yang menunjukkan sesuatu yang sudah jelas dengan perantaraan isarat yang jelas baik dengan tangan atau seumpanya.
Contoh :
ﺍﻜﺮﻢ ﻋﻠﻳﺎ ﻫﺬﺍ ﺍﻯ ﺍﻠﻣﺷﺎﺮﺍﻠﻳﻪ
3.      Kata “ﻮﺬ  yang berarti pemilik ( laki – laki ) dan kata " ﺬﺍﺖ " yang berarti pemilik  (Perempuan).
3.Contoh :                                                     ﺠﺎﺀ ﺮﺠﻞ ﺬﻮﻋﻠﻢ ﺍﻯ ﺼﺎﺤﺐ ﻋﻠﻢ
ﺠﺎﺀﺖ ﺍﻤﺮﺍﺓ ﺬﺍﺖ ﻓﺿﻞ ﺍﻯ ﺼﺎﺣﺒﻪ ﻓﺿﻞ   
4.      Isim Mausul  yang diikuti oleh Alif dan Lam.
4.Contoh : ﺟﺎﺀ ﺍﻠﺭﺟﻞ ﺍﻠﺬﻯ ﺍﺟﺗﻬﺪ ﺍﻯ ﺍﻠﻤﺟﺗﻬﺪ                                         
5.      Kata yang menunjukkan atas bilangan Mausuf.
5.Contoh :                                          ﺠﺎﺀ ﺭﺠﺎﻞ ﺍﺭﺑﻌﺔ                             
6.      Isim yang dipakai untuk menghubungkan  Ya’ ( ) Nisbah .
Contoh :
ﺟﺎﺀ ﺭﺟﻞ ﺪﻤﺷﻗﻰ ﺍﻯ ﻤﺴﻮﺐ ﺍﻠﻰ ﺪﻤﺷﻖ
7.      Kata yang menujukkan atas penyerupaan.
Contoh :
ﺭﺃﻴﺖ ﺭﺠﻼ ﺍﺴﺪﺍ ﺍﻱ ﺴﺠﺎﻋﺎ
ﻔﻼﻦ ﺭﺠﻞ ﺗﻌﻠﺐ ﺍﻱ ﻤﺤﺗﺎﻞ
8.      (ﻣﺎ)Nakirah yang menunjukkan arti umum.
Contoh :
ﺍﻜﺭﻢ ﺭﺠﻼﻣﺎ
Dan kadang–kadang yang dimaksud  ﺎﻤ Nakirah itu makna umum yang berkeadaan.
Contoh :
ﻹﻣﺭﻣﺎﺠﺪﻉ ﻗﺼﻴﺭ ﺍﻧﻔﻪ ﺍﻱ ﻹﻣﺭﻋﻆﻴﻢ


9.      Kata  (ﻜﻞ) dan (ﺍﻱ)           dua kata yang menunjukkan untuk menyempurnakan mausuf untuk sifat.
Contoh :
ﺍﻧﺖ ﺭﺠﻞ ﻜﻞ ﺍﻟﺭﺠﻞ ﺍﻱ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ ﻔﻰ ﺍﻟﺭﺠﻮﻟﻴﺔ
ﺠﺎﺀ ﻔﻰ ﺭﺠﻞﺍﻱ ﺭﺠﻞ ﺍﻱ ﻜﺎﻣﻞ ﻔﻰ ﺍﻟﺭﺠﻮﻟﻴﺔ
ﺠﺎﻔﻰ ﺭﺠﻞ ﺍﻴﻣﺎ ﺭﺠﻞ


C.    Pembagian Sifat Sebagai Suatu Analisis Fungsi Bahasa Dalam Bahasa Arab

Sebelum pengkaji memaparkan pembagian sifat (na’at), pengkaji akan mengelompokkan pembagian sifat sesuai dengan fungsi sifat secara langsung dan tidak langsung dan bentuk kata atau kalimat yang menjadi sifat.
  1. Sifat (Na’at) Haqiqi dan Sababi
(Pembagian sifat sesuai dengan fungsi secara langsung dan tidak langsung)
a.       Sifat Haqiqi dan Sababi adalah kaidah yang berbeda, untuk lebih jelasnya maka diuraikan satu persatu.
Didalam kitab Jami’uddurus dijelaskan bahwa Sifat atau Na’at Haqiqi  kata Sifat yang menjelaskan Sifat dari Sifat – Sifat yang diikuti (Mausuf ). Al-Galyani 1987: 224 ).
Contoh :
ﺠﺎﺀ ﺧﺎﻟﺪ ﺍﻻﺪﻴﺐ


Sedangkan dalam Kitab A-Tukhfatussaniyah dijelaskan bahwa Sifat Haqiqi adalah Sifat yang merofa’kan domir yang tersembunyi dan Sifat tersebut kembali kepada yang diikuti (Mausuf). ( Muhammad, -: 141).
Semetara di dalam Kitab Mulakhas Qawaid Al-Lugah Al-Arabiyah dijelaskan bahwa Sifat atau Na’at Haqiqi adalah kata yang menunjukkan atas Sifat pada jiwa yang diikutinya (Matbu’ah).( Na’mah,- :  51).
Berdasarkan batasan–batasan diatas yang dimaksud dengan Sifat (Na’at) Haqiqi dalam Skripsi ini adalah kata Sifat yang menjelaskan Sifat dari sifat–sifat jiwa yang diikutinya.
Di dalam kitab–kitab Nahwu dijelaskan bahwa Sifat (Na’at) Haqiqi itu harus cocok empat dari sepuluh, maksudnya mengikuti :
 ﺭﻔﻊ
  ﻧﺼﺐ  
ﻣﻌﺭﻔﺔ
ﻣﻔﺭﺪ
ﺗﺜﻧﻴﺔ
ﻣﺬﻜﺭ
ﺧﻔﺽ
ﻧﻜﺭﺓ
ﺠﻣﻊ
ﻣﺆﻧﺚ
Contoh :
ﺠﺎﺌﺕﻔﺎﻂﻤﺔ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺔ
ﺠﺎﺀ ﺍﻠﺭﺠﻞ ﺍﻠﻌﺎﻗﻞ                    
ﺭﺃﻴﺖ ﻔﺎﻂﻤﺔ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺔ
ﺭﺃﻴﺖﺍﻠﺭﺠﻞﺍﻠﻌﺎﻗﻞ                   
ﻤﺭﺭﺖ ﺒﻔﺎﻂﻤﺔ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺔ
ﻤﺭﺭﺖ ﺒﺎﻠﺭﺠﻞﺍﻠﻌﺎﻗﻞ                  
ﺠﺎﺌﺕ ﻔﺎﻂﻤﺗﺎﻥ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺗﺎﻥ
ﺠﺎﺀﺍﻠﺭﺠﻼﻥ ﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻥ                
ﺭﺃﻴﺕ ﻔﺎﻂﻤﺗﻴﻥ ﺍﻠﻌﻗﻠﺗﻴﻥ
ﺭﺃﻴﺕ ﺍﻠﺭﺠﻠﻴﻥ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻴﻥ              
ﻤﺭﺭﺕ ﺒﻔﺎﻂﻤﺗﻴﻥ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺗﻴﻥ
ﻤﺭﺭﺕ ﺑﺎ ﺍﻠﺭﺠﻠﻴﻥ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻴﻥ           
ﺠﺎﺌﺕﻔﺎﻣﺎﺕﺍﻠﻌﺎﻗﻼﺕ
ﺠﺎﺀﺍﻠﺮﺠﺎﻞﺍﻠﻌﻗﻼﺀ                       
ﺮﺃﻴﺕﺍﻠﻔﺎﻄﻣﺎﺕﺍﻠﻌﺎﻗﻼﺕ
ﺮﺃﻴﺕﺍﻠﺮﺠﺎﻞﺍﻠﻌﻗﻼﺀ                
ﻣﺮﺮﺕﺒﺎﻠﻔﺎﻄﻣﺎﺕﺍﻠﻌﺎﻗﻼﺕ
ﻣﺮﺮﺕ ﺒﺎﻠﺮﺠﺎﻞﺍﻠﻌﻗﻼﺀ            

b.      Sedangkan Sifat atau Na’at Sababi adalah dijelaskan di dalam Kitab Mulakhas Qana’id Al-Lugah Al-Arabiyah “Sifat Sababi adalah kata Sifat yang menujukkan Sifat pada kata benda yang berkaitan dengan yang diikuti “. (Na’mah, - :52). 
Dan di dalam kitab Tukhfatussaniyah dijelaskan bahwa Sifat atau Na’at Sababi adalah Sifat yang merafa’kan  kata benda (Isim) yang nyata, padanya domir yang kembali pada Sifat (Muhammad,-:141).
Sementara di Kitab Jami’uddurus dijelaskan bahwa Sifat Sababi adalah kata Sifat yang menjelaskan Sifat–Sifat kata yang berkaitan dengan yang diikutinya dan yang berkaitan dengan Sifat itu sendiri (Al galyani, 1987 : 224).
Berdasarkan batasan–batasan di atas yang  dimaksud dengan Sifat Sababi dalam Skripsi ini adalah kata yang menjelaskan Sifat atas Sifat–sifat kata benda (Isim) yang berkaitan dengan yang diikuti oleh Sifat tersebut.
Adapun mengenai Sifat Sababi dibagi dua : saat mengikuti Mausuf atau Man’utnya.
a.       Sifat (Na’at)  Sababi yang tidak mengadung Domir Man’ut, maka dia harus cocok dua dari lima yaitu dari Rofa’, Nasab, Khafad, Ma’rifat dan Nakirah.
Contoh :

ﺮﺋﻳﺖﺍﻠﺮﺟﻝﺍﻠﻜﺮﻴﻤﺔﺍﻤﻪ
ﺮﺌﻴﺖﺍﻠﺮﺟﻼﻦﺍﻠﻜﺮﻴﻤﺔﺍﻣﻬﻣﺎ
ﺮﺌﻴﺖﺍﻠﺮﺠﺎﻝﺍﻠﻜﺮﻴﻤﺔﺍﻤﻬﻢ
ﺠﺎﺌﺖﺍﻠﻤﺮﺌﺔﺍﻠﻜﺮﻴﻤﺔﺍﻤﻬﺎ
ﺠﺎﺌﺖﺍﻠﻤﺮﺌﺗﺎﻦﺍﻠﻜﺮﻴﻤﺔﺍﻤﻬﻤﺎ
ﺟﺎﺌﺖﺍﻠﻧﺴﺎﺀﺍﻠﻜﺭﻳﻣﺔﺍﻣﻬﻦ
ﺟﺎﺀ ﺍﻠﺮﺟﻝ ﺍﻠﻜﺮﻴﻢ ﺍﺒﻮﻩ
ﺟﺎﺀﺍﻠﺮﺟﻶﻦﺍﻠﻜﺮﻴﻢﺍﺒﻮﻫﻣﺎ
ﺠﺎﺀﺍﻠﺮﺠﺎﻝﺍﻠﻜﺮﻴﻢﺍﺒﻮﻫﻢ
ﻤﺮﺮﺖ ﺒﺎﻠﻤﺮﺌﺔ ﺍﻠﻜﺮﻴﻢ ﺍﺒﻮﻫﺎ
ﻤﺮﺮﺖﺒﺎﻠﻤﺮﺌﺗﺎﻦﺍﻠﻜﺮﻴﻢﺍﺒﻮﻫﻤﺎ
ﻤﺮﺮﺖﺑﺎﻠﻧﺴﺎﺀﺍﻠﻜﺮﻴﻢﺍﺑﻮﻫﻦ
b.      Sifat (Naa’t) Sababi yang mengandung Dlamir Man’ut, maka harus mengikuti Man’utnya baik pada saat Mufrad, Tasniyah, Jamak dan pada saat Muzakkar dan Mu’annas sebagaimana sifat tersebut mengikuti I’rab, Ma’rifat dan Nakirah, jadi Sifat tersebut mengikuti I’rob, Ma’rifat dan Nakirah, jadi Sifat (Na’at) Sababi ini harus cocok 4 dari 10.
Contoh :

ﺠﺎﺌﺖﺍﻠﻤﺮﺌﺗﺎﻦﺍﻠﻜﺭﻳﻣﺗﺎﺍﻻﺐ
ﺟﺎﺌﺖﺍﻠﻧﺴﺎﺀﺍﻠﻜﺭﻳﻣﺎﺖﺍﻻﺐ
ﺟﺎﺀ ﺍﻠﺮﺟﻝ ﺍﻠﻜﺮﻴﻢ ﺍﻻﺐ
ﺟﺎﺀﺍﻠﺮﺟﻶﻦﺍﻠﻜﺭﻣﺎﺍﻻﺐ
ﺠﺎﺀﺍﻠﺮﺠﺎﻝﺍﻠﻜﺭﺍﻢﺍﻻﺐ

Secara Kaidah ungkapan dan contoh di atas sudah benar, tetapi dalam penggunaan bahasa arab, kaidah tersebut sudah tidak bisa dipakai lagi.

  1. Sifat Mufrad, Jumlah dan Syibhul Jumlah
(Pembagian sifat sesuai dengan bentuk kata atau kalimat yang menjadi sifat). Untuk lebih jelasnya maka, pengkaji akan memaparkan satu persatu.
a.       Mufrad
Di dalam kitab-kitab Nahwu dijelaskan bahwa, yang dimaksud dengan Sifat mufrad adalah adalah kata Sifat selain dari jumlah dan yang serupa dengan jumlah, dan termasuk di dalam Mufrad adalah Tasniah dan Jama’.
Contoh :
ﺠﺎﺀﺰﻳﺪﺍﻠﻌﺎﻗﻞ
ﺮﺌﻳﺖﺍﻠﺰﻳﺪﻳﻥﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻥ
ﻣﺮﺮﺖﺑﺎﻠﺯﻳﺪﻳﻥﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻥ


b.      Jumlah
Dijelaskan dalam Kitab Mulakhas Qawid Al-Lugah Al-Arabiyah bahwa “Jumlah adalah kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih dan memberi pemahaman yang sempurna”. ( Na’mah,- : 19).
Sedangkan dalam Kitab Jami’uddurus dijelaskan bahwa “Jumlah adalah kalimat ayang terdiri dari Jumlah Isimiyah atau Jumlah Fi’liyah”. (Al-Galyani, 1987 : 227)
Berdasarkan batasan-batasan di atas yang dimaksud dengan Sifat (Na’at) jumlah dalam Skripsi ini adalah kalimat yang terdiri dari Jumlah Isimiyah atau Jumlah Fi’liyah dan menempati tempat Sifat yang diikutinya.
Contoh :
ﺟﺎﺀﺮﺟﻞﻳﺤﻤﻞﻜﺗﺎﺒﺎ
Dan tidak terjadi jumlah itu menjadi sifat bagi ma’rifat, hanya sifat itu terjadi untuk nakirah, maka jika berada setelah ma’rifat dia menduduki tempat “Hal”.
Contoh :
ﺟﺎﺀﺯﻳﺪﻳﺤﻤﻞﻜﺗﺎﺒﺎ
Kecuali jika jumlah tersebut berada setelah Ma’rifat yang menggunakan Alif dan Lam Jinsiyah (Menunjukkan jenis), maka boleh  jumlah itu menjadi “Sifat” untuk ma’rifat ditinjau dari segi makna, karena dianggap Nakirah dari segi makna, dan boleh menjadi “Hal”. Ditinjau dari segi Lafaz, karena lafaznya Ma’rifat dengan Alif dan Lam.
Contoh :
ﻻﺗﺧﺎﻠﻃﺍﻠﺮﺟﻞﻳﻌﻤﻞﻋﻤﻞﺍﻠﺴﻓﻬﺎﺀ
ﻠﻗﺪﺍﻤﺮﻋﻠﻰﺍﻠﻠﺌﻳﻢﻳﺴﺑﻧﻰ




c.       Sifat (Na’at) Syibhu Al-Jumlah
Dijelaskan dalam Kitab Mulakhas Qawaid Al-Lugas Al-Arabiyah bahwa “Syibhu Al-Jumlah adalah setiap ibarat yang terdiri dari Zharf setelah Mudofun Ilaih dan Jar-Majrur “. ( Na’mah : 19).
Contoh :
ﻗﺑﻞﺍﻠﻇﻬﺮ,ﻋﻠﻰﺍﻠﻤﻜﺗﺐ
Sedangkan yang dimaksud dengan Sifat (Na’at) Syibhu Al-Jumlah dalam Skipsi ini adalah Jumlah Zharf dan Jar- Majrur yang menempati tempat Sifat, seperti menempati tempat Khobar dan Hal.
Contoh  :
ﻔﻰﺍﻠﺪﺍﺮﺮﺠﻞﺍﻤﺎﻢﺍﻠﻜﺮﺴﻰ  ﺍﺼﻠﻪ  ﻔﻰﺍﻠﺪﺍﺮﺮﺠﻞﻜﺎﺌﻦﺍﻮﻤﻮﺠﻮﺪﺍﺍﻤﺎﻢﺍﻠﻜﺮﺴﻰ
ﺮﺌﻴﺖﺮﺠﻼ ﻔﻰﺤﺻﺎﻧﻪ  ﺍﺻﻠﻪ  ﻜﺎﺌﻧﺎﺍﻮﻣﻮﺠﻮﺪﺍﻔﻰﺤﺻﺎﻧﻪ
Dan semua ini termasuk dalam katagori Sifat (Na’at) Hakiki.
Dan perlu ketahui apabila Sifat (Na’at) terdiri dari Mufrad, Zharf, Jar-Majrur dan jumlah maka, boleh mendahulukan  dan boleh membelakangkan Jumlah, seperti firman Allah SWT. :
ﻔﺴﻮﻒﻴﺄﺗﻰﺍﷲﺑﻗﻮﻢﻳﺠﻬﺮﻮﻴﺤﺒﻮﻧﻪﺍﺪﻠﺔﻋﻠﻰﺍﻠﻤﺌﻤﻧﻴﻦﺃﻋﺯﺓﻋﻠﻰﺍﻠﻜﺎﻓﺮﻴﻦ
ﻭﻗﺎﻞﺮﺠﻞﻤﻦﺍﻞﻓﺮﻋﻭﻦﻴﻜﺗﻢﺍﻴﻤﺎﻧﻪ
-
-
Dan sebagai pengetahuan bagi kita semua adalah :
-          Apabila Na’at (Sifat ) itu bukan untuk satu, maka bisa Na’at (Sifat) itu Mukhalafah atau bisa juga Muwafaqah .
Jika Muhakhalafah, wajib dipisah kan dengan huruf Ataf.
Contoh :
ﺮﺌﻴﺖﺒﺎﻠﺰﻴﺪﻴﻦﺍﻠﻜﺮﻴﻢﻭﺍﻠﺑﺧﻴﻝ
Dan jika Na’at (Sifat) itu Muwafakoh, harus sifatnya itu didatangkan secara Musanna atau Jama’.
Contoh :
ﻤﺮﺮﺖﺒﺮﺟﻠﻴﻦﻜﺮﻴﻤﻴﻦﻭﺒﺮﺟﺎﻞﻜﺮﻤﺎ
-          Apabila disifati dua perbuatan dengan satu Amil perlakuan dari segi makna dan perbuatan, maka Na’at (Sifat) itu mengikuti Man’ut (Mausuf) nya dari segi I’rab.
Contoh :
ﺬﻫﺐﺯﻴﺪﻭﺍﻧﻄﻠﻖﻋﻤﺮﻭﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻥ
ﺣﺪﺜﺖ ﺯﻴﺪ ﺍﻭﻜﻠﻣﺖ ﻋﻣﺭﻮﺍ ﺍﻠﻜﺭﻴﻣﻴﻥ
ﻣﺭﺭﺖﺒﺯﻳﺪﻭﺠﺯﺖﻋﻠﻰﻋﻣﺭﻭﺍﻠﺻﺎﻠﺤﻳﻦ
-          Apabila berselisih / Mukhalafah makna dua Amil, atau perbuatan keduanya maka, wajib diputuskan dan tidak bisa mengikuti.
Contoh :
ﺠﺎﺀﺯﻴﺪﻭﺬﻫﺐﻋﻤﺭﻭﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻥ۰١
ﺠﺎﺀﺯﻴﺪﻭﺬﻫﺐﻋﻤﺭﻭﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻥ٠٢
Contoh yang pertama dinasabkan Karena Fi’il yang tersembunyi yaitu: ﺍﻋﻧﻰﺍﻟﻌﺎﻗﻠﻴﻦ sedangkan contoh yang kedua dirofa’kan karena Mubtadak yang tersembunyi yaitu : ﻫﻣﺎﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻦ
Dan ini semua dinamakan dengan Sifat (Na’at) yang terputus.

Catatan :
1.         Isim Alam (Nama) tidak bisa menjadi Sifat, dan dia harus menjadi Mausuf. Dan dia itu disifati dengan empat syarat ( macam ) :
a.       Ma’rifat Dengan Alif Dan Lam
Contoh :
ﺠﺎﺀﺧﻠﻳﻝﺍﻠﻣﺠﺗﻬﺪ
b.      Diidafatkan Kepada Ma’rifat
Contoh :
ﺠﺎﺀﻋﻠﻲﺼﺪﻴﻖﺧﺎﻠﺪ
c.       Harus Dengan Isim Isaroh
Contoh :
ﺍﻜﺮﻢﻋﻠﻴﺎﻫﻨ ﺍ
d.      Dengan Isim Mausul Yang dimulai dengan Alif Dan Lam.
Contoh :
ﺟﺎﺀﻋﻠﻰﺍﻠﻨﻯﺍﺟﺗﻬﺪ

2.         Yang Dima’rifatkan Dengan “Alif Dan Lam” Dan Disifati Dengan lafaz yang ada didalamnya “Alif Lam”.
Contoh :
Dan disandarkan kepada lafaz yang ada alif dan lam
ﺟﺎﺀﺍﻠﻐﻼﻢﺍﻠﻣﺟﺗﻬﺪ

Contoh    :
ﺟﺎﺀﺍﻠﺮﺟﻝﺼﺪﻳﻖﺍﻟﻗﻮﻢ




3.         Diidofatkan  ( disandarkan ) kepada Alam (Nama) yang disifati dengan sifat nama itu sendiri.
Contoh :
ﺟﺎﺀﺗﻟﻣﻳﺬﻋﻟﻲﺼﺪﻳﻕﺧﺎﻟﺪ, ﺟﺎﺀﺗﻟﻣﻳﺬﻋﻟﻲﺍﻟﻣﺟﺗﻬﺪ


4.         Isim Isaroh dan kata ﺍﻱ yang keduanya disifati dengan lafaz yang ada alif dan lam.
Contoh :

ﺟﺎﺀﻫﺬﺍﺍﻟﺮﺟﻞ
ﻳﺎﺍﻳﻬﺎﺍﻺﻧﺳﺎﻥ
Dan juga bisa kata ﺍﻱ itu, disifatkan dengan isim isyarah
Contoh : ﻴﺎﺍﻴﻬﺎﺍﻠﺮﺠﻞ                                                            

5.         Apabila berulang ulang Sifat, dan bentuk sifat itu satu. maka cukup dengan ditasniahkan atau dijamakkan daripada memisahkannya.
Contoh :
ﺠﺎﺀﻋﻟﻲﻮﺧﺎﻟﺪﺍﻟﺸﺎﻋﺮﺍﻦ
ﺠﺎﺀﻋﻟﻲﻮﺧﺎﻟﺪﻮﺴﻌﻴﺪﺍﻟﺷﻌﺮﺍﺀ
Dan apabila Sifatnya berbeda, maka wajib dipisahkan Ataf dengan Waw.
Contoh :
ﺟﺎﺌﻧﻰﺮﺟﻼﻦﻜﺎﺗﺐﻮﺷﺎﻋﺮ
ﺟﺎﺌﻧﻰﺮﺟﺎﻞ ﻜﺎﺗﺐﻮﺷﺎﻋﺮﻮﻔﻗﻴﻪ




6.         Sebenarnya Sifat itu, ada untuk menjelaskan Mausuf dan kadang-kadang sifat itu digunakan untuk memuji, menghormati, mencela, dan menguatkan .
Contoh :
ﺟﺎﺀﻤﺤﺪﺍﻠﻜﺮﻴﻢ
ﺒﺴﻢﺍﷲﺍﻠﺮﺤﻤﻦﺍﻠﺮﺤﻴﻢ
ﺍﻋﻮﺬﺑﺎﺍﷲﻤﻦﺍﻠﺷﻴﻄﺎﻦﺍﻠﺮﺟﻴﻢ
ﺍﻤﺲﺍﻠﺪﺍﺑﺮﻻﻴﻌﻮﺪ



7.         Hak sifat kepada Mausufnya adalah untuk dimiliki, dan kadang- kadang Mausuf itu dibuang karena sangat jelas dan tidak perlu untuk disebut, maka Sifat menempati tempat Mausuf.
Contoh:
ﺍﻦﺍﻋﻣﻞﺴﺎﺑﻐﺎﺕﺍﻱﺪﺮﻮﻋﺎﺴﺎﺑﻐﺎﺕ
ﺍﻧﺎﺍﺑﻦﺟﻼﺍﻱﺍﺑﻦﺮﺟﻞﺟﻼ
ﻧﺤﻦﻔﺮﻴﻗﺎﻦﻤﻧﺎﻅﻌﻦﻮﻤﻧﺎﺍﻗﺎﻢﺗﻗﺪﻴﺮﻩﻤﻧﺎﻮﻴﻖﻅﻌﻦﻮﻤﻧﺎﻮﻴﻖﺍﻗﺎﻢ


D.    I’rab Sifat

Sebelum pengkaji membicarakan I’rab Sifat, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai I’rab.
Di dalam Kitab Al- Kawakib Al-Duriah dijelaskan bahwa I’rab adalah perubahan baris akhir kalimat yang berbeda Amil (Perlakuan) yang masuk pada kalimat tersebut, baik secara nyata maupun tersembunyi (Muhammad Bin Ahmad :12 ).
Dengan batasan di atas maka yang dimaksud dengan I’rob adalah perubahan baris di akhir kalimat karena perbedaan perlakuan yang diterima oleh kalimat tersebut, baik itu Rofa’, Nasab, Khofad dan Jazam.
Sedangkan yang dimaksud dengan I’rob Sifat adalah keadaan baris akhir Sifat tersebut dengan ketentuan mengikuti baris akhir dari Mausufnya, yakni jika   Mausufnya Rofa’ maka Na’at (Sifat) harus Rofa’, baik itu dengan baris depan (Alif apabila Tastniah ) dan Wawu (Apabila Jamak).
Contoh :
ﺠﺎﺀﺯﻴﺪﺍﻠﻌﺎﻗﻞﺍﻋﺮﺍﺑﻪﺠﺎﺀﻔﻌﻞﻣﺎﺿﻰﺯﻴﺪﻔﺎﻋﻞﻮﺍﻠﻌﺎﻗﻞﺼﻔﺔﻠﺯﻴﺪﻤﺮﻔﻮﻉ ﻮﻋﻼﻤﺔﺮﻔﻌﻪﺿﻤﺔﻷﻧﻪﻤﻔﺮﺪ
ﺟﺎﺀﺰﻴﺪﺍﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻼﻦﺼﻔﺔﻠﺰﻴﺪﺍﻦﻣﺮﻔﻮﻉﻮﻋﻼﻣﺔﺮﻔﻋﻪﺍﻻﻠﻒﻧﻴﺎﺑﺔ ﻋﻦﺍﻻﻠﻒﻷﻧﻪﻣﺜﻧﻰ
ﺠﺎﺀﺯﻴﺪﻮﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻮﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻮﻦﺼﻓﺔﻠﺯﻴﺪﻮﻦﻤﺮﻓﻮﻉﻮﻋﻼﻤﺔﺮﻓﻌﻪﺍﻠﻮﺍﻮﻧﻴﺎﺒﺔﻋﻦ ﺍﻻﻠﻒﻷﻧﻪﺟﻤﻊ
*

*

*



ﺠﺎﺀ ﻔﻌﻞ ﻤﺎﺾ ﺍﻠﺗﺎﺀ ﺗﺎﺀﺍﻠﺘﺌﻧﻴﺚ ﻔﺎﻂﻤﺔ ﻔﺎﻋﻞ ﺍﻠﻌﺎﻗﻟﺔ ﺻﻔﺔ ﻠﻔﺎﻁﻣﺔ ﻣﺭﻔﻭﻉ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺭﻓﻌﻪ ﻀﻤﺔ ﻅﺎﻫﺭﺓ ﻓﻰﺍﺨﺭﻩﻷﻧﻪﺍﻠﻣﻓﺮﺪ
ﺠﺎﺀ ﻔﻌﻞ ﻤﺎﺾ ﺍﻠﺗﺎﺀ ﺗﺎﺀﺍﻠﺘﺌﻧﻴﺚ ﻓﺎﻄﻤﺘﺎﻥ ﻔﺎﻋﻞ ﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺘﺎﻥ ﺻﻔﺔ ﻠﻓﺎﻄﻤﺘﺎﻥ ﻤﺭﻔﻭﻉ ﻭﻋﻼﻣﺔ ﺮﻔﻌﻪﺍﻷﻠﻒ ﻧﻳﺎﺒﺔ ﻋﻦﺍﻠﺿﻣﺔ ﻷﻧﻪ ﻣﺜﻧﻰ
ﺠﺎﺀ ﻔﻌﻞ ﻤﺎﺾ ﺍﻠﺗﺎﺀ ﺗﺎﺀﺍﻠﺘﺌﻧﻴﺚ ﻔﺎﻃﻤﺎﺖ ﻔﺎﻋﻞ ﺍﻠﻌﺎﻘﻼﺖ ﺻﻔﺔ ﻠﻔﺎﻃﻤﺎﺖ ﻣﺭﻔﻭﻉ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺭﻓﻌﻪ ﻀﻤﺔ ﻅﺎﻫﺭﺓ ﻓﻰﺍﺨﺭﻩﻷﻧﻪﺟﻣﻊﺍﻠﻣﺆﻧﺚﺍﻠﺴﺎﻠﻡ

ﺠﺎﺋﺖ ﻔﺎﻄﻣﺔﺍﻟﻌﺎﻘﻠﺔ:


ﺠﺎﺋﺖ ﻓﺎﻄﻤﺘﺎﻥﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺘﺎﻥ :


ﺟﺎﺌﺕ ﻔﺎﻃﻤﺎﺖﺍﻠﻌﺎﻘﻼﺖ :

Dan apabila Mausufnya mansuf, maka Sifat (Na’at)nya harus mansuf baik itu dengan baris atas, apabila Isim Mufrad dan Jamak Taksir, dengan Ya’ ( ) apabila Tasniyah dan Jamak Muzakkar, dan dengan Kasrah apabila Jamak Muannas.
Contoh :
ﺍﻠﻌﻗﻼﺀﺼﻔﺔﻠﺯﻳﺪﻤﻧﺼﻮﺐﻮﻋﻼﻤﺔﻧﺼﺑﻪ ﻔﺗﺣﺔﻇﺎﻫﺮﺓﻔﻰﺍﺧﺮﻩﻷﻧﻪﻤﻔﺮﺪ
ﺍﻠﻌﻗﻼﺀﺼﻔﺔ ﻠﻠﺮﺠﺎﻞﻤﻧﺼﻮﺐﻮﻋﻼﻤﺔﻧﺼﺑﻪ ﻔﺗﺣﺔﻇﺎﻫﺮﺓﻔﻰﺍﺧﺮﻩﻷﻧﻪﺟﻤﻊﺍﻠﺗﻜﺴﻳﺮ

ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦﺼﻔﺔﻠﻠﺮﺟﻠﻳﻦﻤﻧﺼﻮﺐﻮﻼﻤﺔﻧﺼﺒﻪﺍﻠﻴﺎﺀﻧﻴﺎﺒﺔ
ﻋﻦﺍﻔﺗﺤﺔﻷﻧﻪﻤﺜﻧﻰ
ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦﺼﻔﺔﻠﻠﺯﻳﺪﻴﻦﻤﻧﺼﻮﺐﻮﻋﻼﻤﺔﻧﺼﺒﻪﺍﻠﻴﺎﺀﻧﻴﺎﺒﺔ
ﻋﻦﺍﻔﺗﺤﺔﻷﻧﻪﺠﻤﻊﻤﺬﻜﺮﺍﻠﺴﺎﻠﻢ
ç

ç



ç
ﺮﺌﻳﺖﺯﻳﺪﺍﺍﻠﻌ          ﻞﻘﺎ

ﺮﺌﻳﺖﺍﻠﺮﺠﺎﻞﺍﻠﻌﻗﻼﺀ


ﺮﺍﻳﺖﺍﻠﺮﺟﻠﻳﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦ

ﺮﺍﻳﺖﺍﻠﺯﻳﺪﻴﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦ
*

*


*

*
ﺮﺃﻴﺖ ﻔﻌﻞ ﻭﻔﺎﻋﻞ ﻔﺎﻄﻣﺔ ﻤﻔﻌﻭﻞ ﺒﻪ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺔ ﺻﻔﺔ ﻠﻔﺎﻁﻣﺔ ﻤﻧﺼﻭﺏ ﻮﻋﻼﻤﺔ ﻧﺻﺒﻪ ﻔﺘﺤﺔ ﻅﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰﺍﺨﺮﻩ ﻷﻧﻪ ﻣﻔﺭﺪ
ﺮﺃﻴﺖ ﻔﻌﻞ ﻭﻔﺎﻋﻞ ﻫﻧﻭﺩﺍ ﻤﻔﻌﻭﻞ ﺒﻪﺍﻠﻌﻗﻼﺀ ﺻﻔﺔ ﻟﻬﻧﻭﺩ ﻤﻧﺼﻭﺏ ﻮﻋﻼﻤﺔ ﻧﺻﺒﻪ ﻔﺘﺤﺔ ﻅﺎﻫﺮﺓ ﻓﻰﺍﺨﺮﻩ ﻷﻧﻪﺠﻣﻊﺍﻠﺘﻛﺳﻴﺭ
ﺮﺃﻴﺖ ﻔﻌﻞ ﻭﻔﺎﻋﻞ ﻔﺎﻃﻣﺘﻳﻥ ﻤﻔﻌﻭﻞ ﺒﻪ ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺘﻴﻥ ﺻﻔﺔ ﻠﻔﺎﻃﻣﺘﻳﻥ ﻤﻧﺼﻭﺏ ﻮﻋﻼﻤﺔ ﻧﺻﺒﻪ ﺍﻠﻴﺎﺀ ﻧﻴﺎﺑﺔ ﻋﻦﺍﻠﻀﻤﺔﻷﻧﻪ ﻤﺜﻧﻰ
ﺮﺃﻴﺖ ﻔﻌﻞ ﻭﻔﺎﻋﻞ ﻔﺎﻂﻤﺎﺖ ﻤﻔﻌﻭﻞ ﺒﻪ ﺍﻠﻌﺎﻗﻼﺖ ﺻﻔﺔ ﻟﻔﺎﻂﻤﺎﺖ ﻤﻧﺼﻭﺏ ﻮﻋﻼﻤﺔ ﻧﺻﺒﻪ ﻜﺴﺮﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻔﻰﺍﺧﺭﻩ ﻧﻴﺎﺒﺔ ﻋﻦﺍﻠﻔﺘﺢﻷﻧﻪ ﺠﻤﻊﺍﻠﻣﺅﻧﺚﺍﻠﺴﺎﻠﻡ
ﺮﺃﻴﺖ ﻔﺎﻄﻣﺔﺍﻟﻌﺎﻘﻠﺔ :

ﺭﺃﻳﺖ ﻫﻧﻭﺩﺍﺍﻠﻌﻗﻼﺀ :

ﺭﺋﻴﺖ ﻔﺎﻃﻣﺘﻳﻥﺍﻠﻌﺎﻗﻠﺘﻴﻥ :

ﺮﺃﻳﺕ ﻔﺎﻂﻤﺎﺖﺍﻠﻌﺎﻗﻼﺖ :








Dan apabila Mausufnya Khofad, maka Sifat (Na’at) nya harus khofad, baik itu dengan baris bawah apabila Isim Mufrad, Jamak Taksir dan Jamak Muannas, dan dengan Ya’ ( ) apabila Tasniyah dan Jamak Muzakkar.

Contoh :
ﺍﻠﻌﺎﻗﻞﻤﺠﺮﻮﺮﻮﻋﻼﻤﺔﺠﺮﻩﺍﻠﻜﺴﺮﺓﻇﺎﻫﺮﺓﻔﻰﺍﺧﺮﻩﻷﻧﻪﻣﻔﺮﺪ
ﺍﻠﻌﻗﻼﺀ ﻣﺠﺮﻮﺮﻮﻋﻼﻤﺔﺠﺮﻩﺍﻠﻛﺴﺮﺓﻅﺎﻫﺮﺓ ﻔﻰﺍﺧﺮﻩﻷﻧﻪﺠﻤﻊﺍﻠﺗﻜﺴﻴﺮ
ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦﺼﻔﺔﻠﻠﺯﻳﺪﻴﻦﻣﺠﺮﻮﺮﻮﻋﻼﻤﺔﺠﺮﻩﺍﻠﻴﺎﺀﻧﻴﺎﺒﺔ
ﻋﻦﺍﻠﻛﺴﺮﺓﻷﻧﻪﻤﺜﻧﻰ
ﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦﺼﻔﺔﻠﻠﺯﻳﺪﻴﻦﻣﺠﺮﻮﺮﻮﻋﻼﻤﺔﺠﺮﻩﺍﻠﻴﺎﺀﻧﻴﺎﺒﺔ
ﻋﻦﺍﻠﻛﺴﺮﺓﻷﻧﻪﺠﻤﻊﻤﺬﻜﺮﺍﻠﺴﺎﻠﻢ
ç
ç

ç
ﻤﺮﺮﺖﺒﺯﻳﺪﺍﻠﻌﺎﻗﻞ
ﻣﺮﺮﺖﺒﺎﻠﺮﺠﺎﻞﺍﻠﻌﻗﻼﺀ

ﻣﺮﺮﺖﺒﺎﻠﺯﻳﺪﻴﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦ

ﻣﺮﺮﺖﺒﺎﻠﺯﻳﺪﻴﻦﺍﻠﻌﺎﻗﻠﻳﻦ
*
*

*

*
ﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺔ ﺼﻔﺔ ﻠﻔﺎﻃﻣﺔ ﻣﺠﺭﻭﺭ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺟﺭﻩ ﻜﺴﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻔﻰﺍﺨﺮﻩﻷﻧﻪ ﻣﻓﺭﺩ
ﺍﻠﻌﻘﻼﺀ ﺼﻔﺔ ﻠﻬﻧﻭﺩﻣﺠﺭﻭﺭ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺟﺭﻩ ﻜﺴﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻔﻰﺍﺨﺮﻩﻷﻧﻪ ﺠﻣﻊﺍﻠﺘﻜﺴﻴﺭ
ﺍﻠﻌﺎﻘﻼﺖ ﺼﻔﺔ ﻠﻔﺎﻄﻣﺎﺕ ﻣﺠﺭﻭﺭ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺟﺭﻩ ﻜﺴﺭﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻔﻰﺍﺨﺮﻩﻷﻧﻪ ﺠﻣﻊ ﻣﺅﻧﺚﺍﻠﺴﺎﻠﻡ
ﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺗﻴﻥ ﺼﻔﺔ ﻠﻔﺎﻃﻣﺗﻴﻦ ﻣﺠﺭﻭﺭ ﻮﻋﻼﻣﺔ ﺟﺭﻩﺍﻠﻴﺎﺀ ﻧﻴﺎﺑﺔ ﻋﻦﺍﻟﻜﺴﺭﺓ ﻷﻧﻪ ﻣﺜﻧﻰ
ﻆﺎﻫﺭﺓ
ﻤﺮﺮﺖ ﺒﻔﺎﻂﻤﺔﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺔ :

ﻤﺮﺮﺖ ﺒﻬﻧﻭﺪﺍﻠﻌﻘﻼﺀ :

ﻤﺮﺮﺖ ﺒﻔﺎﻄﻤﺎﺖﺍﻠﻌﺎﻘﻼﺖ :

ﻤﺭﺭﺖ ﺒﻔﺎﻄﻣﺘﻴﻥﺍﻠﻌﺎﻘﻠﺗﻴﻥ :





Begitu juga dengan Na’at (Sifat) sebab cara mengi’rabnya semua yaitu dengan mengikuti baris ahir yang disifatinya (Yang diikutinya).




ﻅﺎﻫﺮﺓ

ﻧﻴﺎﺒﺔ

-
ﺍﻠﻀﻣﺔ
ﻅﺎﻫﺮﺓ
ﺍﻠﻭﺍﻭ
ﺍﻻﻟﻒ
ﺍﻠﻧﻭﻦ
-
-
-
-
-
ﻤﺭﻔﻮﻉ
*




ﻅﺎﻫﺮﺓ

ﻧﻴﺎﺒﺔ

-
ﺍﻠﻔﺗﺤﺔ
ﺍﻻﻟﻒ
ﺍﻟﻴﺎﺀ
ﺍﻠﻜﺴﺮﺓ
-
-
-
-
ﻤﻧﺼﻮﺐ
*




ﺍﺴﻢ ﺍﻠﺬﻯ ﻻ ﻴﻧﺼﺮﻒ


-
ﻅﺎﻫﺮﺓ
ﻧﻴﺎﺒﺔ
ﻧﻴﺎﺒﺔ
-
-
-
ﺍﻠﻜﺴﺮﺓ
ﺍﻠﻜﺴﺮﺓ
ﺍﻠﻔﺗﺤﺔ
-
-
-
ﻤﺠﺮﻮﺭ
*
















ﺍﺴﻡ ﺍﻠﻣﻔﺭﺪ
ﺠﻣﻊ ﺍﻠﺘﻜﺴﻴﺭ
ﺠﻣﻊ ﺍﻠﻣﺅﻧﺚ ﺍﻠﺳﺎﻠﻡ
-
-
-
ﻅﺎﻫﺮﺓ
*






ﺍﺴﻢ ﺍﻠﺘﺜﻧﻴﺔ
ﺠﻣﻊ ﻤﺬﻜﺮﺍﻠﺴﺎﻠﻡ
ﺍﺴﻤﺎﺀ ﺍﻠﺨﻣﺴﺔ
-
-
-
ﻧﻴﺎﺒﺔ
*






ﻴﺎﺀ ﻟﻆﻴﻤﺔ
ﺍﻠﻒ ﻠﻆﻴﻤﺔ
--
ﺘﻘﺩﻴﺭ
*
 ﺠﺎﺀ ﻣﺤﻣﺩ ﻣﺭﺽ ﺍﺒﻭﻩ
 ﺠﺎﺀ ﻣﺣﻣﺪﺍﺒﻮﻩ ﻣﺭﻴﺾ
ﺍﺫﺍ ﻜﺎﻥ ﺍﻠﺼﻓﺔ ﻤﻥ ﺟﻣﻠﺔ ﻤﺛﻞ
-
ﻣﺣﻠﻰ
*























0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.