Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 13 Januari 2011

Metode Pembelajaran Bahasa Arab


  1. Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan pengajaran sehingga ia dapat berkembang secara sempurna. Ada dua buah konsep kependidikan yang berkaitan dengan lainnya, yaitu belajar (learning) dan pembelajaran (intruction).
Konsep belajar berakar pada pihak peserta didik sedangkan konsep pembelajaran berakar pada pihak pendidik. Dalam proses belajar-mengajar (PBM) bahasa Arab akan terjadi interaksi antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari dan penerima pelajaran yang dibutuhkannya. Pendidik adalah seseorang atau sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar-mengajar dan seperangkat peranan lainnya, yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar yang efektif.
Kegiatan belajar-mengajar bahasa Arab melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru (pendidik), tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode mengajar, media, dan evaluasi. Tujuan pembelajaran adalah perubahan perilaku dan tingkah laku yang positif dari peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar-mengajar, baik perubahan secara psikologis dalam tingkah laku (over behaviour), motorik, maupun gaya hidupnya.
Sementara itu, tujuan pembelajaran bahasa Arab secara umum adalah agar peserta didik mampu mengusai empat keterampilan (skills) bahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan membaca, keterampilan berbicara, dan keterampilan menulis. Untuk memperoleh keempat keterampilan ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pendidik, salah satu di antaranya yang menurut penulis penting adalah metode mengajar.
Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tidak pernah luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Metode mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik karena keberhasilan Proses Belajar-mengajar (PBM) bergantung pada cara/mengajar gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun, rajin, dan antusias menerima pelajaran yang diberikan sehingga diharapkan akan terjadi perubahan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Metode mengajar bahasa Arab banyak ragamnya, baik yang bersifat tradisional maupun yang bersifat modern (inovatif). Keberhasilan pembelajaran bahasa Arab juga tergantung bagaimana pendidik (guru) memilih metode yang tepat dalam pembelajarannya. Pendidik mungkin perlu melakukan perubahan atau penggantian metode dalam proses belajar-mengajar sejalan perubahan sikap dan minat siswa terhadap materi yang disampaikan.

  1. Pentingnya sebuah Metode
Dalam pembelajaran bahasa Arab, metode mempunyai kedudukan yang sangat signifikan untuk mencapai tujuan. Menurut M. Arifin,1 metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Jika demikian halnya, maka metode itu harus ada pada setiap proses belajar-mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau tenaga pendidik. Lebih jauh, Edward Anthony, dalam Ahmad Fuad Efendy,2 mengatakan bahwa metode merupakan rencana menyeluruh penyajian bahasa secara
sistematis berdasarkan pendekatan yang ditentukan. Metode dianggap sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau materi pelajaran kepada peserta didik dan dianggap lebih signifikan dari aspek materi sendiri.
Melihat berbagai konsep tentang metode di atas, maka keberadaan sebuah metode dalam interaksi belajar-mengajar sangat penting. Menurut Mahmud Yunus,4 metode itu lebih penting dari materi.
Pernyataan ini patut direnungi karena pada masa lalu ada semacam anggapan yang cukup menyesatkan bahwa penguasaan materi ilmu merupakan suatu jaminan kemampuan bagi seseorang untuk mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun juga. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa seseorang yang cukup pintar dan menguasai suatu ilmu tertentu ternyata acap kali menemui semacam batu sandungan dalam mengomunikasikan ilmu tersebut secara efektif.
Pernyataan ini adalah sebuah realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi oleh peserta didik walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik.
Menurut Ramayulis penggunaan sebuah metode dalam proses belajar-mengajar sepenuhnya tergantung kepada kepentingan siswa. Bahasa Arab sebagai bahasa asing bagi pembelajar Indonesia tentu sangat membutuhkan metode yang menarik agar bahasa itu familiar bagi anak didik, dan menarik untuk dipelajari dan dimiliki.
Namun demikian, keunggulan suatu metode dalam pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut M. Basyiruddin Usman7 setidaknya ada lima faktor yang harus dipertimbangkan sebelum seorang pendidik menetapkan suatu metode yang akan digunakannya dalam proses belajar-mengajar; pertama, tujuan. Setiap topik pembahasan memiliki tujuan secara rinci dan spesifik sehingga dapat dipilih metode yang tepat, yang sesuai dengan pembahasan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Kedua, karakteristik siswa. Adanya perbedaan karakteristik siswa baik sosial, kecerdasan, watak, dan lainnya harus menjadi pertimbangan tenaga pendidik dalam memilih metode yang terbaik digunakan.
Ketiga, situasi dan kondisi (setting). Tingkat lembaga pendidikan, geografis, dan sosiokultural juga harus menjadi pertimbangan seorang tenaga pendidik dalam menetapkan metode yang akan digunakannya.
Keempat, perbedaan pribadi dan kemampuan guru. Seorang tenaga pendidik yang telah terlatih bicara disertai dengan gaya, mimik, gerak, irama, dan tekanan suara akan lebih berhasil memakai metode ceramah dibanding tenaga pendidik yang kurang mempunyai kemampuan tersebut.
Kelima, sarana dan prasarana. Ketersediaan sarana dan prasarana yang berbeda antara satu lembaga pendidikan dengan lainnya, harus menjadi pertimbangan seorang tenaga pendidik dalam memilih metode yang akan digunakannya.
Begitulah pentingnya sebuah metode dalam proses belajar-mengajar, bahasa Arab khususnya, dan pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang tenaga pendidik atau guru. Oleh karena itu, seorang guru, khususnya guru bahasa Arab, harus menguasai berbagai metode dalam pembelajaran sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
Keberhasilan penggunaan suatu metode merupakan keberhasilan proses belajar-mengajar yang pada akhirnya berfungsi sebagai determinasi kualitas pendidikan.



  1. Metode Pembelajaran bahasa Arab Tradisional dan aplikasinya
Secara umum, metode mengajar terbagi dua; tradisional dan modern. Dalam istilah lain, para ahli menyebut klasifikasi metode ini adalah konvensional dan inkonvensional. Metode mengajar konvensional (tradisional) adalah metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru. Metode inkonvensional atau modern adalah suatu teknik mengajar yang baru berkembang dan belum lazim digunakan secara umum. Metode ini masih merupakan metode yang baru dikembangkan dan diterapkan di beberapa sekolah tertentu, yang mempunyai peralatan dan media yang lengkap serta guruguru yang ahli menanganinya.

A. Arsyad mengungkapkan bahwa metode pengajaran bahasa asing untuk pengajaran bahasa Arab merupakan ilmu yang baru berkembang kemudian, jauh di belakang perkembangan metode pengajaran bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan berarti metode pengajaran bahasa Arab selama ini yang masih bersifat ‘tradisional’ itu tidak berhasil, bahkan dianggap cukup banyak membawa keberhasilan.
Menurut Chatibul Umam, keberhasilan pengajaran bahasa Arab dipengaruhi oleh penggunaanmetode yang banyak menggunakan latihan atau drill karena bahasa adalah kemampuan.
Kemampuan itu tidak bisa dicapai hanya dengan kaidah, tetapi dengan latihan dan pengulangan. Sejalan dengan pendapat di atas, Abdul Hamid Husayn (1953) mengatakan bahwa ada tiga faktor psikologis yang membantu pengajaran bahasa, yaitu menirukan, pengulangan, dan penggalakan. Di sinilah, letak keberhasilan pengajaran bahasa Arab selama ini yang berlangsung di berbagai lembaga pendidikan, khususnya pesantren modern, mulai dari tingkat SLTP sampai ke perguruan tinggi.
Dalam tulisan ini, penulis akan menggambarkan tahapan-tahapan metode yang selama ini digunakan oleh pengajar bahasa Arab, sebagaimana diungkapkan oleh A. Arsyad. Ia menyebutnya sebagai sebuah teknik umum yang sifatnya heuristik dan praktis yang lahir berdasarkan pengalaman dan dapat dipakai untuk semua umur siswa.

1)          Persiapan
Seorang guru yang baik harus selalu mempersiapkan MPR (Mukaddimah, Presentasi, dan Review) dalam setiap topik bahasan. Tujuan pelajaran yang akan diajarkan harus jelas. Setelah selesai tatap muka, tanya diri anda apakah tujuan pelajaran telah dicapai atau belum, cara-cara dan teknik serta taktik yang akan diberikan hendaknya senantiasa dipikirkan. Menurut Abubakar Muhammad,  tahap persiapan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengajaran bahasa, di samping metode dan kemampuan siswa mencurahkan segala kesungguhannya untuk menerima pelajaran. Dalam hal membuat persiapan ini, ada dua faktor yang harus diperhatikan; pertama, hendaknya guru memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan tingkat pemikiran anak, waktu yang tersedia, dan aspek lain yang dapat membantu tercapainya tujuan. Kedua, pilihlah metode yang baik yang memudahkan penyampaian pelajaran sehingga mudah
diterima siswa.

2)          Berbicaralah Bahasa Arab di dalam Kelas
Siswa membutuhkan keterbiasaan sesegera mungkin akan bunyi yang belum familiar bagi mereka. Patut disadari bahwa bahasa baru yang mereka sedang pelajari tidak bisa dijadikan objek terakhir atau mata pelajaran sekolah yang apa adanya. Ia harus dikomunikasikan karena bahasa itu adalah alat, bukan tujuan. Pada level elementari ini dapat dilakukan dengan cara menegur mereka dalam bahasa Arab, misalnya dalam situasi keadaan ruangan terlalu panas atau dingin, mintalah siswa dengan bahasa Arab
untuk membuka atau menutup jendela.

3)          Jangan Pindah sebelum Mantap, Jangan Tertipu oleh Jawaban Bersama
Menguasai suatu bahasa bagaikan membangun sebuah rumah batu. Pembangunan harus dimulai dengan memasang pondasi, kemudian batu batanya disemen supaya tidak goyah. Dalam kondisi yang demikian itu, bila ada pemasangan batu yang kurang kuat, maka konstruksi keseluruhan akan melemah. Perkenalkanlah struktur-struktur baru secara lisan, dengan memakai media yang efektif. Dalam memilih media, perlu diperhatikan hal-hal berikut; (1) media hendaknya selaras dan menunjang tujuan; (2) media disesuaikan dengan materi; (3) perhatikan kondisi audiens; (4) ketersediaan media itu sendiri; (5) media yang dipilih dapat menjelaskan apa yang hendak disampaikan kepada siswa, dan (6) biaya yang dikeluarkan dalam pemanfaatan media harus seimbang dengan hasil yang akan dicapai Selanjutnya, berilah kesempatan siswa untuk mendengar struktur tersebut berulang kali dan mintalah mereka mengulangi berkali-kali pula. Tulis di papan tulis dan suruh mereka menyalin dan seterusnya. Sekali lagi siswa dijaga agar mereka memahami suatu pokok bahasan dan tahu memakainya sebelum pindah ke pokok bahasan selanjutnya. Siswa juga dijaga agar guru tidak terkecoh oleh jawaban bersama.

4)         Buku Bukan Guru tetapi Alat Pembantu
Buku berfungsi sebagai media untuk mempermudah tugas guru, bukan sebagai guru karena buku tidak dapat berbicara, mendengar, mengoreksi, atau memberi dorongan. Instruksi haruslah berasal dari guru dan bukan dari sebuah buku bagaimanapun baiknya buku tersebut. Guru-guru yang baru terjun mengajar serta guru-guru yang beban mengajarnya terlalu melampaui batas akan gampang terperangkap ke dalam apa yang disebut “the textbook trap”. Mereka terkadang berkata “buka halaman 80”, misalnya, dan seterusnya alokasi waktu dipergunakan untuk membaca dan mengerjakan latihan-latihan dari buku teks. Guru dan murid sama-sama bergantung pada buku sehingga terkadang tampak bahwa guru tidak mengajar karena ketergantungannya yang penuh kepada buku. Oleh karena itu, sebaiknya buku teks hanya dijadikan pelengkap. Adapun pengenalan terhadap materi yang baru dan lisan hendaklah datang dari guru.

5)         Berikan Banyak Tamrinat
Yang terutama sekali perlu diperhatikan dalam pemberian tamrinat adalah pengenalan pola-pola kalimat di dalam bahasa Arab seperti:
Pola-pola subtitusi lainnya perlu terus dilatihkan dan daftar kosa kata yang berpola sama perlu pula dipresentasikan. Sebagai catatan latihan, subtitusi khususnya yang agak sulit hendaknya diberikan kalau siswa sudah menunjukkan kesiapan yang matang. Tentu saja mereka tidak bisa melatih diri kalau mereka tidak memiliki kosa kata yang banyak.

6)         Latih Siswa Bertanya dalam Bahasa Arab
Untuk poin ini, mereka harus menguasai kosa kata tanya (harf istifham), seperti:

7)         Berikan Semangat/Dorongan
Siswa harus mempunyai semangat yang meluap-luap di dalam belajar hingga KMUP (kemauan, minat, usaha, dan perhatian) bisa tercipta pada diri mereka. Mereka harus memiliki keberanian berbicara tanpa malu. Hendaklah disampaikan kepada mereka keuntungan atau kelebihan orang yang mengetahui bahasa Arab. Pujian-pujian juga akan mendorong mereka maju selangkah di dalam usaha belajar mereka.
Terakhir, bila keinginan yang riil untuk belajar bahasa Arab mulai bersemi pada diri mereka, maka separuh dari tugas guru sebagai pengajar dapat dianggap selesai.

8)         Ciptakan Suasana yang Menyenangkan
Tujuan dari penciptaan suasana segar adalah agar perasaan tertekan yang ada pada diri siswa dapat hilang. Tawa dan senyum seorang guru, dapat dianggap sebagai pembantu pembangkit suasana yang menyenangkan, begitu pula cerita-cerita lucon dalam bahasa Arab, anekdot-anekdot, permainan seperti strip strony dan seterusnya, kesemuanya dapat memecah kebekuan di dalam belajar.

D.    Metode Pembelajaran bahasa Arab Modern (Inovatif)
Yang dimaksud dengan metode inovatif adalah metode yang membawa faham-faham baru yang sekarang ini sedang menjadi bahan perbincangan di Amerika dan Eropa; yaitu pertama, suggestopedia;kedua, counseling-learning; dan ketiga, the silent Way. Metode-metode itu muncul setelah metode audio-lingual hampir habis masa jayanya.
Dalam tulisan ini, hanya dua metode yang akan dibahas karena penulis menilai dua metode inilah yang tepat dan dapat memperbaharui sistem pengajaran bahasa Arab.

Ø     Suggestopedia

Metode ini disebut juga dengan suggestology oleh pencetusnya oleh Georgi Luzanov (Bulgaria). Metode ini dimaksudkan untuk membasmi suggesti dan pengaruh negatif yang tidak disadari bersemai pada diri anak didik. Metode ini juga untuk memberantas perasaan takut (fear) yang menurut para ahli sangat menghambat proses belajar; seperti perasaan tidak mampu (feeling of incompetence), perasaan takut salah (fear of making mistakes), dan keprihatinan serta ketakutan akan sesuatu yang baru dan belum familiar (apprehension of that which is novel or unfamiliar). Menurut Bancropt, seperti dikutip A. Arsyad,15 ada enam unsur dasar dari metode ini:

a)        Authority, yaitu adanya semacam dari seorang guru (guru dapat dipercaya kemampuannya), yang membuat murid yakin dan percaya pada dirinya sendiri (self confidence). Stevick, salah seorang pengagum metode ini, menyatakan, kalau self-confidence tercipta, maka rasa aman (security) terpenuhi. Kalau rasa aman terpenuhi, maka murid akan terpancing untuk berani berkomunikasi.

b)        Infantilisasi, yaitu murid seakan-akan seperti anak kecil yang menerima “authority” dari guru. Menurut Bushman, belajar seperti anak-anak melepaskan murid dari kungkungan belajar rasional ke arah belajar yang lebih intuitif. Suatu misal adalah adanya penggunaan “role-play” dan nyanyian dalam metode ini akan mengurangi rasa tertekan sehingga murid dapat belajar secara ilmiah. Ilmu masuk tanpa disadari seperti apa yang dialami oleh seorang anak kecil.

c)         Dual Komunikasi, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal, yang berupa rangsangan semangat dari keadaan ruangan dan dari kepribadian seorang guru. Murid-murid duduk di kursi yang nyaman dengan tata ruang yang hidup dan memberi semangat. Guru menghindari mimik yang menunjukkan ketidaksabaran, cemberut, sinis, dan kritik-kritik yang negatif.

d)        Intonasi, dalam hal ini, guru menyajikan materi pelajaran dengan tiga yang berlainan. Dari intonasi mirip orang berbisik dengan suara tenang dan lembut, intonasi yang normal biasa-biasa sampai kepada nada suara keras dramatis.


e)        Rhythm, yaitu pelajaran membaca dilakukan dengan irama, berhenti sejenak di antara kata-kata dan rasa yang disesuaikan dengan nafas irama dalam. Di sini, murid diminta dan diajar untuk menarik nafas selama dua detik, menahannya selama empat detik, dan menghembuskannya selama dua detik.

f)          Keadaan Pseuda-Passive, pada unsur ini, keadaan murid betul--betul rileks, tetapi tidak tidur sambil mendengar irama musik abad ke-18. Racle (1977) menjelaskan bahwa pada saat-saat rileks inilah terjadi apa yang disebut “hypermnesia” di mana daya ingat menjadi kuat.

Meskipun demikian, metode ini dianggap modern dan inovatif, namun masih terdapat kekurangan dan tampaknya kurang tepat diterapkan di lembaga pendidikan formal di Indonesia. Akan tetapi, ada beberapa prinsip yang bisa diambil dari metode ini berkenaan dengan prinsip belajar bahasa, yakni prinsip “the principle of joy and easiness”, prinsip senang dan menganggap sesuatu itu gampang. Hal ini sejalan dengan pandangan Lary Anger (19750) bahwa belajar bahasa sebaiknya disuasanai oleh halhal yang menyenangkan dan sedapat mungkin dinikmati.

Ø     Counseling Learning Method (CLM)

CLM pertama kali diketengahkan oleh Prof. Charles Curran pada tahun 1961, dan mulai dipakai oleh Loyola University, Chicago, pada tahun 1967. Dengan “counseling”, menurut Curran diharapkan timbulnya minat murid untuk memperoleh pandangan-pandangan baru dan munculnya kesadaran pribadi yang dapat memberikan stimulasi terhadap perkembangannya di samping mempererat hubungan dengan orang lain. Murid di dalam istilah yang dibuat oleh Curran disebut “client” dan guru disebut “counselor” atau “knower “. Tingkatan belajar mulai awal sampai akhir digambarkan oleh Paul G. La Forge (19775) sebagai berikut.
Di sini dapat dilihat perkembangan bahasa client mulai ia dalam status “zero” (bergantung penuh) sampai ke status “total independent” (tidak bergantung sama sekali pada orang lain) dalam berkomunikasi. Bahasa dimulai dari apa yang siswa mau katakan sedangkan terjemahan dimulai pada tingkatan pertama. Client mengatakan apa yang ingin dikatakan dan counselor menunjukkan kepadanya bagaimana mengatakan sesuatu sampai akhirnya client merasa leluasa memakainya dan mampu menjawab pertanyaan secara produktif. Suatu hal yang menarik dalam metode ini adalah adanya usaha murid untuk menyibukkan dirinya secara ikhlas, bukan dengan paksaan sampai ia mampu berkomunikasi.

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.
ADIFAH 2220 © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute