Cari Blog Ini

Rabu, 04 Desember 2013

SEDULUR PAPAT LIMO PANCER ANTARA KEJAWEN DAN ISLAM.

Ingatlah Kawan Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri.
Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam
dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan
adanya penjaga-penjaga yang senantiasa
mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai
dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu
dengan setia senantiasa berada di sekeliling kita.
Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami
tentang Kejawen, adanya para penjaga tersebut
dikenal dengan sebutan “Sedulur Papat”. Siapa saja
Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal
masyarakat yang memahami Kejawen adalah:
1. Kakang Kawah (Air Ketuban)

2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)

3. Getih (Darah)

4. Puser (Pusar)

*Kakang Kawah
Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air
ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam
dunia ini dari rahim ibu. Seperti kita ketahui,
sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih
dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si
jabang bayi ke dunia ini. Lantaran air ketuban
(kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat
Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara
lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah
Kakang Kawah.
*Adhi Ari-Ari
Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah
ari-ari jabang bayi itu sendiri. Urutan kelahiran
jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu,
setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan
dengan ari-ari. Karena ari-ari tersebut muncul
setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat
Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/
adik Ari-ari.
*Getih
Getih memiliki arti darah. Dalam rahim ibu selain si
jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga
dilindungi oleh darah. Dan darah tersebut juga
mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang
akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.
*Puser
Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang
menghubungkan antara seorang ibu dengan anak
yang ada dalam rahimnya. Dengan adanya tali
pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu,
maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan
tersebut dan disimpan di Ari-Ari. Disamping itu,
pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk
bernapas. Oleh karena itu, hubungan antara ibu
dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya
kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan.
Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang
Maha Kuasa.
Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim
ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si
ibu. Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah
ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang
ada di muka bumi ini. Maka bila masyarakat
Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang
menyebut saudara yang tak tampak mata itu
secara lengkap yaitu
“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER,
KALIMO PANCER”.
5.Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer?
Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si
jabang bayi itu sendiri. Artinya, sebagai jabang bayi
yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari
semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.
Kesamaan Dengan Islam
Antara ajaran Kejawen dengan Islam ada
kesamaannya. Dalam Islam disebutkan bahwa
setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang
ditugaskan oleh Tuhan. Siapa saja malaikat-malaikat
itu? Malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Gusti
Allah untuk setiap manusia itu antara lain, Jibril,
Mikail, Izroil dan Isrofil.
Nah, kesamaan antara ajaran Kejawen dan Islam
tersebut yakni Kakang Kawah yang disebutkan
sebagai pembuka jalan si jabang bayi, itu di Islam
dianggap sama dengan Jibril (Penyampai Wahyu).
Malaikat Jibril lah yang membuka jalan bagi
keselamatan sang bayi hingga lahir ke dunia.
Sedangkan Adhi Ari-ari yang disebut-sebut di dalam
ajaran Kejawen, di dalam Islam dianggap sama
dengan Mikail (Pembagi Rezeki). Karena lewat Ari-
Ari itulah si jabang bayi dapat hidup dengan sari-sari
makanan yang didapatkan dari seorang ibu.
Sementara Getih (darah) , bagi orang Kejawen,
pada pemahaman orang Islam dianggap sama
dengan keberadaan malaikat Izroil (pencabut
nyawa). Buktinya, jika tidak ada darahnya, apakah
manusia bisa hidup?
Yang terakhir adalah Puser. Dalam pemahaman
masyarakat Kejawen, Puser adalah sambungan tali
udara (napas) antara sang ibu dengan anaknya.
Nah, pada pemahaman Islam, Puser ini dianggap
sama dengan Isrofil (Peniup Sangkakala). Meniup
sangkakala menjelang kiamat Qubro (kiamat Besar)
adalah dengan napas.
Oleh karena itu, kita wajib mengenali siapa
penjaga-penjaga tak nampak yang sudah
diperintahkan Gusti Allah untuk senantiasa
mendampingi kita. Dengan kita mengenali
keberadaan mereka, akhirnya mereka nantinya bisa
mawujud (berwujud). Dan yang perlu diingat lagi,
jika kita sudah melihat wujud mereka, maka
hendaknya kita senantiasa memuji atas kebesaran
Gusti Allah yang Maha Agung. Karena atas titah
Gusti Alloh-lah kita semua bisa hidup berdampingan
dengan penjaga-penjaga yang disebut dengan
Sedulur Papat, Kalimo Pancer

Sedulur 4/5 wujud

SADULUR PAPAT LIMA PANCER

Ilmu ini diturunkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.kekuatannya berasal dari kekuatan diri kita yang diselaraskan dengan kultur budaya yang ada ditanah jawa.
bila kita mempelajarinya maka kita akan bisa bertemu dengan apa yang disebut Sedulur Papat Lima Pancer yaitu saudara kita yang lahir bersama kita saat kita dilahirkan.
1.   Pangeran Kama Rasa
      yaitu rasa sakit yang dirasakan oleh seorang wanita yang mau melahirkan.
      kekuatannya bisa memukul dari jarak jauh pada bagian tenggorokan.
      wujudnya seorang pria tampan,setampan BtaraKamajaya.

2.   Pangeran Kawah Rasa
      yaitu air ketuban yang keluar saat mau melahirkan.
      kekuatannya untuk menarik suatu benda dari jarak jauh,bila pada manusia dibagian tengkuk.
      wujudnya seorang pria tampan,setampan Raden Arjuna.

3.   Nyai Dewi Wungkus Antasari
      selaput lendir yang membungkus Ari-ari.
      kekuatannya untuk mengobati.
      wujudnya seorang wanita cantik,secantik Dewi Sri.

4.   Sitali Ari
      yaitu Ari-ari seorang bayi yang baru dilahirkan.
      kekuatannya untuk mengobati.
      wujudnya seorang wanita cantik,secantik Dewi Utari.

5.   Panglencer Putih
      yaitu darah putih yang ada di tubuh seseorang.
      kekuatannya bisa memutar benda seperti angin puting beliung.
      wujudnya seorang pria besar yang gagah,seperti Bima.

6.   Raden Mangkurat
      yaitu darah merah yang mengalir dalam tubuh.
      kekuatannya bisa mendorong atau memukul dari jarak jauh dibagian dada.
      wujudnya pria gagah,segagah Pangeran Hasanudin.

7.   Raja Lautan
      yaitu Usus yang ada dalam perut.
      kekuatannya bisa memutuskan Usus dan urat-urat dalam tubuh.
      wujudnya seorang pria besar seperti bajak laut.

8.   Romo Agung Sunan Kalijaga
      yaitu hati yang memompa darah manusia.
      kekuatannya bisa melihat sesuatu yang ghaib dan menjadi daya serang yang ampuh juga menetralkan
      serangan ilmu hitam.
      wujudnya seorang pria memakai baju hitam model nelayan.

9.   Awal Akhir
      yaitu badan kasar manusia.
      kekuatannya untuk memukul dari jarak jauh.
      wujudnya seperti diri kita.

10. Jejer Wujud Kula
      yaitu bayangan manusia yang terpantul dicermin.
      kekuatannya bisa membuat kita berada ditempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
      wujudnya seperti diri kita saat bercermin.

Nama nama ini dibuat untuk memudahkan kita untuk memanggil mereka datang bertemu langsung dengan kita.
dalam pemanggilan mereka kita perlu penyelarasan dengan dimensi mereka agar kita bisa bertemu langsung dan bercakap-cakap dengan mereka.
adapun cara untuk bisa berkomunikasi dengan mereka :

Ritual Mandi :
Doa yang dibaca waktu mau mandi :
         1. Niyat ingsun adus angedusi sedulur papat lima pancer enem suksma pitu nyawa wolu rasa sanga
             raga sepuluh kang tapa ing kahyangan.
         2. Sing diedusi badan suci badan Nur Muhammad.
         3. Jin setan padha welas padha asih padha wedhi maring aku.
         4. Duh Gusti kang Murbeng Agesang ingsun nyuwun wilujeng.

Ritual Slametan :
Doa yang dibaca adalah doa Selamat.
       yang disajikan adalah nasi putih satu panci kecil dengan telur ayam kampung 3biji direbus.
       nasinya ditaruh diatas daun pisang trus telur ditaruh diatas nasi baru baca doa Selamat.

Ritual Puasa :
       Puasa selama 3 hari 3 malam dan tidak boleh makan daging termasuk telur maupun terasi.
       dilakukan pada hari kelahiran kita.

Ritual Doa :
       doa doa yang dibaca saat kita puasa :
  1.  Doa Nurbuat.
  2.  Sri milayang suksma among raga
       Kakang Kawah Adhi Ari-ari
       Abawa pepelem
       Wakada wakaya,Wikada wikaya
       Sastra pangeran pengampun
       Kawula nyuwun tulung
      ( dibaca 3x setiap jam 6 pagi dan sore atau saat baru bangun tidur dan mau tidur )

Ritual Sajen :
       Membuat sesajenan yang terdiri dari sayuran/janganan(kluban),bubur baro-baro (bubur merah putih dikasih gula merah diatasnya),wedang kopi,teh,air putih.
       Doa yang dibaca :
     Kakang Kawah kang rumeksa awak mami tekakna sedyaku,
     Adhi Ari-ari kang mayungi ngenakake pengarah,
     Ponang getih ing raina wengi rewangana aku,
     Allah kang kuwasa kaparenga panyuwun kula,
     Puser turutana panjalukku,
     Sadulurku papat kalima pancer kang lahir bareng sadina
     sing metu marga ina sing ora metu marga ina
     sing karawatan kumpul ingsun ora pisah
     kula pengin ketemu saking kersaning Gusti.
    ( dibaca 11x mereka akan datang )

DIALOG DENGAN SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi wa barokatuh.......

Sahabat, SELF TALK atau DIALOG BATHIN adalah sesuatu yang positif dan alamiah. Dan bagi yg sudah terbiasa melakukan meditasi, maka beberapa bagian diri (Part atau Ego State) yg mewakili perilaku tertentu atau sifat tertentu kita akan muncul dan menampakkan diri. Dan anda tidak perlu mengaitkan ini dengan ajaran Sedulur papat limo pancer dan lain-lain. Karena bagian diri kita ini bisa berjumlah puluhan, dan tidak hanya satu ataupun dua. Dan ini adalah sesuatu yang alamiah, jadi anda tidak perlu terjebak kepada praktek mistik yang tidak jelas dalam hal ini.

Sebetulnya kita banyak melakukan Self talk (dialog dengan diri sendiri) sepanjang hari. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita melakukan “dialog diam” ini sebanyak 50.000 kali dalam sehari. Self talk memiliki efek langsung terhadap pikiran dan perilaku kita.

Self talk adalah dialog internal (atau kadang juga monolog) yang kita lakukan dengan diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi tertentu.

Apa yang “secara diam-diam” kita katakan kepada diri sendiri mengenai sebuah kejadian akan memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri kita. Selftalk dapat mengubah apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling kita, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita ingat ketika meninjau kembali pengalaman hidup kita.

Self-talk bertujuan mengontrol, mensinergikan dan mengharmoniskan alam pikiran, emosi, kehendak dan alam perilaku kita, serta berdamai dengan diri sendiri. Sering alam pikiran, emosi dan keinginan kita bertolak belakang, sehingga perlu di adakan sebuah RAPAT INTERN di antara perilaku yg ada di dalam diri kita. Sehingga diperoleh solusi yg tepat dan memberdayakan diri kita....

Sahabat, mungkin kita mudah untuk berdamaii dengan orang lain. Tetapi terkadang lebih sulit untuk berdamai dengan diri sendiri. Bila hal itu yg terjadi, Maka lakukanlah SELF TALK untuk berdamai dengan diri sendiri.....

SELF TALK (DIALOG DIRI) POSITIF (by. Kingson Suryaatmaja)
Bagaimana Anda Berdialog Dengan Diri Anda Akan Menentukan Keberhasilan Anda!

Sebetulnya kita banyak melakukan Self talk (dialog dengan diri sendiri) sepanjang hari. Beberapa ahli mengatakan bahwa kita melakukan “dialog diam” ini sebanyak 50.000 kali dalam sehari. Self talk memiliki efek langsung terhadap pikiran dan perilaku kita.

Self talk adalah dialog internal (atau kadang juga monolog) yang kita lakukan dengan diri kita sendiri ketika dihadapkan pada situasi tertentu.

Apa yang “secara diam-diam” kita katakan kepada diri sendiri mengenai sebuah kejadian akan memberi pengaruh yang luar biasa terhadap diri kita. Selftalk dapat mengubah apa yang kita lihat dan dengar di sekeliling kita, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita ingat ketika meninjau kembali pengalaman hidup kita.

Pernahkah anda mendengar tentang self fulfilling prophecy (ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri)? Self-talk mirip dengan self-fulfilling prophecy—dimana apapun yang paling sering dan paling banyak kita pikirkan, cenderung akan terwujud nyata.

Ketika self-talk kita positif – “Segalanya akan berjalan lancar,” “Saya yakin bisa mendapatkan pekerjaan ini”— maka kita sebenarnya sedang mengarahkan diri menuju sukses, dan kemungkinan sukses itu ada untuk kita. Karena kita memerintahkan alam bawah sadar untuk menyediakan segala sumber daya di dalam diri kita untuk sukses.

Ketika self-talk kita negatif — “Keadaan pasti akan menjadi kacau balau,” “Saya tidak yakin bisa menjadi seorang supervisor yang baik” — maka kita sebenarnya sudah menyerah, dan besar kemungkinan kita tidak akan sukses. Karena kita telah memerintahkan alam bawah sadar kita untuk melewatkan segala kesempatan dan kemungkinan untuk berhasil.

Self-talk akan mengarahkan pikiran dan perilaku kita. Bila kita berpikir, “Saya yakin bisa mendapatkan pekerjaan ini,” maka kita akan berusaha untuk mendapatkannya. Selama proses interview, kita akan menunjukkan keyakinan diri dan kemampuan kita, dan karena itu kemungkinan bagi kita untuk diterima juga lebih besar.

Namun bila kita mengatakan pada diri kita sendiri, “Lamaran saya pasti akan ditolak,” maka besar kemungkinan kita tidak akan berusaha untuk menunjukkan keyakinan dan kemampuan diri kita, dan karena itu, lamaran kita pun ditolak.

Maka, sangatlah penting untuk “menulis kembali naskah” self-talk kita yang negatif menjadi positif. Seperti menghapus “rekaman” mental yang biasanya kita putar ketika menghadapi tekanan, dan menggantikannya dengan “rekaman” yang baru.

Ada beberapa pola berpikir yang sering kita miliki, khususnya pola yang negatif, yakni:

1. Pola Pikir Hitam Putih (Kalau kita tidak sukses sempurna, berarti kita adalah pecundang sempurna!)
  • Saya berasal dari kota kecil, dan semua orang disini dari kota yang lebih besar. Bagaimana mungkin saya bisa bersaing dengan mereka.
  • Oke, sekarang giliran saya. Saya harus menunjukkan kepada mereka betapa hebatnya saya.
2. Pola Pikir Katastrophik (Membesar-besarkan signifikansi sebuah kejadian!)
  • Ini moment yang paling memalukan sepanjang hidup saya!
  • Tidak pernah ada orang yang menghina saya sedemikian rupa seperti yang baru saja dia lakukan!
3. Pola Pikir Pesimistik (Hanya melihat dari sisi negatif dan membayangkan yang terburuk!)
  • Saya tidak pernah punya teman baik sebelum ini. Apa yang membuat saya mengira saya bisa mendapatkannya sekarang?
  • Saya sudah tahu saya tidak bisa! Buang waktu saja!
4. Self-fulfilling Prophecy
  • Begitu mulai makan es krim, saya tidak bisa berhenti!
  • Saya tidak bisa melakukan aktifitas saya tanpa di dahului dengan secangkir kopi di pagi hari.
5. Pernyataan “Harus” (Dikendalikan dengan seperangkat peraturan yang kaku!)
  • Saya seharusnya lebih banyak berlatih. Kini kesempatannya sudah hilang.
  • Saya tidak boleh makan setelah jam 6.00 sore, atau seluruh kalori yang saya makan akan menjadi lemak.
6. Pola Pikir “Ini bukan salah saya” (Mengalihkan tanggung jawab atas tindakan kita)
  • Kalau bukan karena dia, saya pasti dipilih untuk posisi itu.
  • Kalau saja saya punya lebih banyak waktu, saya pasti akan berhasl.
7. Menerka Pikiran Orang (Mengasumsikan orang berpikir yang buruk terhadap kita!)
  • Tidak ada orang yang akan tertarik dengan pembicaraan saya.
  • Lihat.. mereka semua merendahkan saya.
8. Discounting (tidak bisa menerima fedback positif!)
  • Mau kasih saya nasehat? Dia pikir dia siapa? Hah?
  • Saya tahu, dia hanya pura-pura memberi masukan. Tapi tujuan sebenarnya adalah mempermalukan saya di meeting tadi.
9. Pola Pikir Perbandingan (selalu membandingkan diri dengan orang lain)
  • Apapun yang saya lakukan, dia selalu selangkah lebih maju dibanding saya!
  • Ya, kamu bisa karena kamu memiliki sumber daya yang lebih besar.
Cara untuk memiliki self talk yang positif dan menghilangkan self talk yang negatif sebetulnya sederhana. Pertama, sadarilah cara kita berkomunikasi dengan diri sendiri. Bila kemudian kita menyadari bahwa kita sedang melakukan self talk yang negatif, maka hentikanlah saat itu juga. Segera katakan pada diri sendiri, “STOP!!”

Kemudian gantilah self talk negatif dengan yang positif. Awalnya, ini mungkin akan membuat kita merasa sedikit canggung dan aneh. Karena sebetulnya kita tidak mungkin memilih kata apa yang akan kita ucapkan, bahkan kepada diri sendiri, karena kata-kata itu keluar begitu saja. Ia adalah kata yang biasa kita ucapkan. Tapi jangan khawatir. Bila kita terus berlatih, maka cepat atau lambat kebiasaan yang baru akan menggantikan kebiasaan yang lama.

Semua kebiasaan bisa dipelajari. Awalnya, kebiasaan itu kita bentuk, dan kemudian ia membentuk kita dan hidup kita. Tapi point yang paling utama adalah bahwa semua kebiasaan yang kini kita miliki awalnya dibentuk oleh kita sendiri.

Karena itu, kita bisa mengubahnya. Pilihan untuk berubah atau tidak ada di tangan kita. Dan pilihan itulah yang akan menentukan perjalanan kita menuju sukses dalam setiap aspek kehidupan kita.

Cara Mudah Berbicara Dengan Part atau Bagian Diri
by. ADI W GUNAWAN

Sejak buku The Secret of Mindset beredar, khususnya edisi hardcover yang ada bonus CD Ego State Therapy, saya mendapat banyak respon mengenai pengalaman pembaca buku yang menggunakan CD ini untuk berdialog dengan diri sendiri.

Ada yang dengan mudah bisa langsung berbicara dengan Part atau Ego State mereka. Ada yang kadang bisa kadang nggak, sepertinya si Part ini agak “nakal”. Ada juga yang sudah mencoba berkali-kali tapi tetap belum bisa berkomunikasi dengan Part mereka.

Mengapa berbicara dengan Part ini gampang-gampang susah?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit berkomunikasi dengan Part:

1. Perasaan Takut
Yang paling utama adalah perasaan takut karena berpikir bahwa yang ia ajak bicara adalah suatu entitas atau”makhluk” yang masuk ke dalam dirinya, seperti orang yang kerasukan. Padahal pandangan ini sungguh tidak tepat dan tidak berdasar.

Jika perasaan takut dan tidak nyaman ini muncul sebelum berbicara dengan Part maka bisa dipastikan tidak akan terjadi dialog sama sekali. Mengapa? Karena perasaan takut ini mem-block atau menghambat proses komunikasi.

Apa sih sebenarnya Part ini?
Part atau Ego State adalah Bagian dari diri kita. Bagian ini paling mudah diamati atau disadari kegiatannya saat kita baru bangun tidur. Biasanya akan ada dua Bagian Diri yang berdialog. Satu Bagian mau kita segera bangun.Satu Bagian lagi mau kita tetap santai berbaring lima menit lagi.

Dialog antar Bagian juga bisa dirasakan atau diamati saat kita hendak memutuskan sesuatu. Biasanya minimal akan ada dua Bagian yang saling berkomunikasi dan mengajukan argumentasi mereka masing-masing.

Jadi, anda jelas sekarang bahwa Part ini sebenarnya tidak lebih dari program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar. Part beroperasi dengan pemikiran, memori, preferensi, logika berpikir, paradigma, keyakinan, nilai hidup, belief, sikap, perilaku, dan kebiasaan mereka yang unik.

2. Pikiran Kurang Rileks
Yang membuat pikiran sulit rileks adalah adanya perasaan takut. Alasan lainnya teknik rileksasi yang digunakan tidak tepat karena tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas. Yang sulit berdialog dengan Part biasanya mereka yang (sangat) analitikal. Untuk mengatasi hal ini maka pikiran perlu dibuat rileks.

Mengapa pikiran perlu rileks?
Ceritanya begini. Biar mudahnya saya akan menggunakan analogi laut dan ikan paus. Ikan paus menghabiskan 90% waktunya di dalam air. Jadi mereka jarang sekali muncul ke permukaan. Kalaupun naik ke permukaan mereka hanya menyeburkan udara kotor dan menghirup udara segar. Setelah itu masuk lagi ke dalam laut.

Kita akan tahu ada ikan paus naik ke permukaan dari semburan air yang muncrat tinggi ke udara. Dari kejauhan kita tetap bisa melihat semburan ini. Tapi dengan satu syarat yaitu semburan hanya bisa dilihat bila laut dalam kondisi tenang. Namun bila saat itu laut sedang bergolak, ada gelombang besar, dan petir menyambar, atau bahkan badai, maka akan sangat sulit melihat semburan air yang dikeluarkan ikan paus.

Ikan paus ini sama dengan informasi yang berasal dari pikiran bawah sadar (theta) dan nirsadar (delta). Permukaan laut sama dengan beta. Bila beta sangat aktif maka pikiran bergolak. Bila saat pikiran bergolak dan ada banyak buah pikir (thought) atau bentuk-bentuk pikiran yang muncul dan tenggelam dengan cepat, dan misalnya pada saat itu ada informasi dari pikiran bawah sadar/nirsadar yang naik ke permukaan maka akan sulit dikenali. Namun bila pikiran kita tenang, beta kita rileks, maka kita bisa dengan mudah mengenali informasi yang muncul ke “permukaan”.

Lalu, apa sih sebenarnya yang terjadi saat kita berdialog dengan Part?

Saat berdialog maka kita mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik, ini adalah aktivitas gelombang beta, dan pertanyaan ini selanjutnya turun dari beta melalui alfa, jembatan ke bawah sadar, masuk ke theta atau delta, dan dari sini akan ada jawaban yang muncul, dan melalui proses yang sama, naik ke alfa, terus ke beta, dan kita mendapatkan jawaban.

3. Pertanyaan yang Diajukan Tidak Spesifik
Banyak orang membuat kesalahan dengan mengajukan pertanyaan yang tidak spesifik, misalnya, “Mengapa saya kok belum sukses?”

Bila dilihat sepintas pertanyaan ini sepertinya sudah benar. Namun pikiran bawah sadar akan bingung. Mengapa? Karena sukses yang dimaksud di aspek yang mana? Apakah di aspek spiritual, finansial, relasi, emosi, fisik, mental, materi, atau apa?

Kalau pertanyaannya tidak spesifik maka akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kita tidak akan mendapat jawaban. Kedua, jawaban muncul tapi tidak seperti yang kita harapkan.

Berbicara dengan Part sama dengan kita menghubungi satu perusahaan besar. Saat telpon masuk ke operator maka kita harus spesifik minta disambungkan ke divisi (Bagian) mana. Jika tidak maka kita bisa salah dihubungkan dengan Bagian yang tidak ada kepentingannya dengan keperluan kita. Dan saat sudah tersambung ke Bagian itu kita perlu mengajukan pertanyaan yang spesifik agar juga mendapat jawaban yang spesifik seperti yang kita inginkan atau butuhkan.

4. Berharap Mendengar Suara Bisikan
Pemahaman keliru ini yang sering dipegang banyak orang. Mereka berpikir bahwa berbicara dengan Bagian sama seperti mendengar ada suara yang dibisikkan ke telinga mereka. Jadi saat mereka mengajukan pertanyaan, mereka berharap jawabannya muncul dalam suara yang didengar oleh telinga mereka seperti kalau berbicara dengan seseorang.

Part berkomunikasi bukan dengan cara seperti ini. Part berbicara dengan menggunakan self-talk atau internal dialog. Suara ini “didengar” dari dalam, bukan dari luar. Ada yang menyebutnya dengan suara hati.

5. Merasa Gagal Karena Tidak Bisa Melihat Part
Ada juga yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan Part karena merasa tidak bisa melihat Part ini. Sebenarnya kita tidak harus atau perlu melihat Part. Kita bisa menggunakan “pendengaran dalam” atau perasaan kita. Jadi, tidak harus melihat wujud Part.

Bagi yang visual maka Part bisa muncul dalam bentuk tertentu. Namun bagi yang auditori maka cukup hanya mendengar Part bicara. Kalau yang kinestetik, gunakan perasaan untuk mengerti apa yang disampaikan Part.

6. Terlalu Berharap Bisa Berkomunikasi Dengan Part
Sikap yang terlalu berharap untuk bisa berbicara dengan Part justru akan menghambat proses komunikasi. Saat kita sangat ingin maka saat itu pula pikiran sadar kita sangat aktif. Hal ini berarti beta kita akan sangat tinggi. Dalam kondisi ini komunikasi dengan Part pasti sulit dilaksanakan.

7. Niat Kurang Kuat
Ini juga salah satu penyebab sulitnya komunikasi dengan Part. Saat kita kurang niat atau tidak serius maka pikiran bawah sadar tidak akan melayani permintaan kita untuk berkomunikasi dengan Part. Niat ini berfungsi sebagai drive untuk mendorong pertanyaan kita turun dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadar dengan cepat dan efektif.

Sebelum berkomunikasi kita perlu meniatkan untuk bertemu dengan Part ini. Anda perlu spesifik sekali. Part yang mana yang ingin anda ajak berkomunikasi.

8. Memang Tidak Ada Masalah
Seringkali orang berpikir mereka punya masalah, padahal sebenarnya tidak. Jika ini yang terjadi maka saat kita hendak berkomunikasi dengan Part maka sudah tentu tidak ada komunikasi. Lha, memang nggak ada masalah kok cari-cari masalah? Mengapa harus memaksa ada jawaban padahal tidak ada jawaban itu sebenarnya adalah jawaban yang sesungguhnya?

Rabu, 07 Desember 2011

Mahasiswa dan Proses Pendewasaan


Dalam proses pendewasaannya seorang mahasiswa sering kali dihadapkan dengan perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang ada disekelilingnya, namun disamping itu seorang mahasiswa memiliki posisi dan peranan yang strategis serta sangat essensial dalam sebuah proses perubahan social dan kebudayaan itu sendiri. Seorang mahasiswa juga sebagai transformator nilai-nilai dari pergerakan generasi-generasi terdahulu ke generasi-generasi berikutnya. Dan merintis perubahan dalam rangka dinamisasi kedewasaan berpikir, bersikap dalam kehidupan untuk modernization peradaban-peradaban yang sedang berjalan/berkembang.

jika kita percaya bahwa masa kini adalah merupakan sebuah proses dari masa lalu yang mendapat pengaruh dari cita-cita masa depan, maka kedudukan serta peranan seorang mahasiswa sebagai transformator nilai-nilai kebudayaan serta inovator dari perkembangan jaman yang kian berorientasi ke masa depan lebih jelas, bahwa mahasiswa harus menjadi mobilitation, pembakar semangat, pendobrak yang hidup dalam nilai-nilai idealisme, dan membangun subkultur serta berani memperjuangkannya.

Sebagai bagian dari intelektual community, generasi penerus bangsa, agent of change, agent of modernization, mahasiswa menduduki posisi yang strategis serta esensial dalam keterlibatannya untuk melakukan rekayasa sosial menuju independensi masyarakat, dalam aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam posisinya seorang mahasiswa yang dianggab sebagai komunitas intelektual muda, dan juga dipandang sebagai salah satu kunci penentu dalam transformasi nilai-nilai kebudayaan untuk menuju keadilan social serta kemakmuran bangsa. Di samping itu masih ada lagi dua kelompok strategis lainnya yang ikut andil serta mempunyai peranan yang esensial dalam mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan yaitu, kaum/para agamawan dan masyarakat sipil (Madani) yang mempunyai kesadaran kritis dan juga peran serta atas situasi sosial yang sedang berlangsung dalam kehidupan mereka saat ini.

Posisi seorang mahasiswa secara sederhana dapat di gambarkan sebagai sosok seseorang yang barada di tengah-tengah level. Ketika mahasiswa berperan di masyarakat meka menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri, di kalangan intelektual seorang mahasiswa juga dianggap berada diantara mereka. Dengan kata lain keberadaan mereka (mahasiswa) berada di tengah-tengah level, apapun yang di lakukan oleh mahasiswa dalam keikut sertaannya untuk merekayasa serta menstranformasikan kebudayaan mempunyai nilai strategis dan esensial dalam proses pendewasaan serta perubahan social yang terjadi dilingkungan sekitarnya.

Selasa, 29 November 2011

Komunikasi Antar Personal


Komunikasi Antar Personal 

Definisi KAP
KAP adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang (Wiryanto, 2004).
Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil (Febrina, 2008).
KIP Antara Dua Orang adalah komunikasi dari seseorang ke orang lain, dua arah interaksi verbal dan nonverbal yang menyangkut saling berbagi informasi dan perasaan.

PENGERTIAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

 

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-individu (Littlejohn, 1999).
Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, seperti suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, seorang guru dengan seorang muridnya, dan sebagainya.
Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) mengatakan ciri-ciri komunikasi diadik adalah:
· Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat;
· Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal.

Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)


Gambaran Umum Ilmu Bahasa (Linguistik)
Oleh: Deny A. Kwary

I. Pendahuluan

Dalam berbagai kamus umum, linguistik didefinisikan sebagai ‘ilmu bahasa’ atau ‘studi ilmiah mengenai bahasa’ (Matthews 1997). Dalam The New Oxford Dictionary of English (2003), linguistik didefinisikan sebagai berikut:
“The scientific study of language and its structure, including the study of grammar, syntax, and phonetics. Specific branches of linguistics include sociolinguistics, dialectology, psycholinguistics, computational linguistics, comparative linguistics, and structural linguistics.”
Program studi Ilmu Bahasa mulai jenjang S1 sampai S3, bahkan sampai post-doctoral program telah banyak ditawarkan di universitas terkemuka, seperti  University of California in Los Angeles (UCLA), Harvard University, Massachusett Institute of Technology (MIT), University of Edinburgh, dan Oxford University. Di Indonesia, paling tidak ada dua universitas yang membuka program S1 sampai S3 untuk ilmu bahasa, yaitu Universitas Indonesia dan Universitas Katolik Atma Jaya.

Minggu, 13 November 2011

اللغة بين أصناف الدلالات



يرتبط لدى مؤسّسي الفكر اللغوي في الحضارة العربية الإسلامية مبحث الدلالة اللغوية بتصور شامل لأصناف شتى من الدلالات التي تقوم في جوهرها على فكرة الإفضاء إلى حقائق الأشياء أو المدلولات والمعاني بالاعتماد على أنواع من الأدلة.
ولقد شكل المنظور الشمولي لفكرة الدلالة دائرة واسعة استوعبت على المستوى المبدئي كل ما يمكن أن يصدر عنه فعل الإبانة عامة، فكما يرى الجاحظ أن "البيان اسم جامع لكل شيء كشف لك قناع المعنى، وهتك الحجاب دون الضمير، حتى يفضي السامع إلى حقيقته، ويهجم على محصوله كائناً ما كان ذلك البيان، ومن أي جنس كان ذلك الدليل" (1) طالما أن المعتبر هو إباحة الدليل بمخزونه ومحتواه.
ولقد تواتر ذكر أصناف دلالية خمسة قام الجاحظ برصدها أيضاً، إذ يرى أن "جميع أصناف الدلالات على المعاني من لفظ وغير لفظ، خمسة أشياء لا تنقص ولا تزيد: أولها اللفظ، ثم الإشارة، ثم العقد، ثم الخط، ثم الحال التي تسمى نصبة" (2).
وشكلت هذه الأصناف لدى غيره حضوراً متكرراً كلما استدعى المقام التعرض لمسائل الدلالة (3).
وينتظم هذه الأصناف من الدلالات أصول عامة تتمثل في منطلقات عقائدية بالخصوص، يستحيل بموجبها فعل الدلالة طرقاً على المطلق ومعانقة لأصل الوجود (4)، دون أن نغفل أساس الحاجات الاجتماعية المتجسدة أساساً في الاضطرار إلى الاتصال وتكييف بعض هذه الأصناف وفق هذه الوظيفة.
وباعتماد العقل المفتق لخصائص الإفضاء بالدلالة بحسب طبيعة أنظمة الأدلة ووظائفها يتم تنزيل تلك الدلالات أصنافاً أو أنواعاً رئيسية حيث
يبدو "توافق عام عند العرب على تقسيم الدلالة ثلاثة أنواع: عقلية وطبيعية ووضعية" (5). وهذا التمييز إذ يبيح إمكان ضبط الفروق بين هذه الأنساق الدلالية المؤسسة على رصد دقائق الإدلاء بين طرفي كل دليل وطبيعة ذلك الإدلاء القائمة على أساس طبيعي أو عقلي أو عرفي يمكّن من استجلاء خصائص الدليل اللغوي في هذا الإطار الشامل. إلا أن المقام لا يبيح لنا متابعة هذه الخصائص ولا ضبط تلك الفروق، إنما نكتفي بالإشارة إلى أنه وقع في التراث العربي الإسلامي تمييز الدليل اللغوي بخاصية الاعتباط باعتباره يتنزل في متصور العرف مقابل وسم غيره من أنظمة الأدلة الأخرى المترتبة في خانة النسق الطبيعي والمنطقي بسمة الاضطرار. واستحالت خاصية الاعتباط معياراً لضبط الجهاز اللغوي وطاقته الإبلاغية (6). ولقد ترتب على هذا التمييز النوعي أن تبوأت اللغة مكانة لائقة تكفل لها الاستجابة لحاجة الاجتماع البشري إلى الاتصال باعتبارها الوسيلة الأولى المحققة لهذه الغاية.

Minggu, 14 Agustus 2011

Hukum Islam di Era Demokrasi: Tantangan dan Peluang bagi Formalisasi Syari’at Islam di Indonesi

Hukum Islam di Era Demokrasi:
Tantangan dan Peluang bagi Formalisasi Syari’at Islam
di Indonesia Nurrohman

Pendahuluan
Di tengah kesulitan yang dihadapi oleh sebagian politisi Muslim untuk memasukkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ( Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya) kedalam konstitusi Indonesia karena pada akhirnya gagasan itu ditolak oleh mayoritas suara, Sukarno, president pertama Indonesia pernah menyatakan bahwa jika sebagian besar orang Indonesia benar-banar Muslim dan jika benar bahwa Islam merupakan agama yang hidup di hati rakyat, maka silahkan setiap pemimpin menggerakkan orang-orangnya agar delegasi Muslim menempati kursi parlemen… Dengan demikian undang-undang yang dikeluarkan oleh lembaga perwakilan rakyat ini dengan sendirinya akan menjadi Islami. Jika orang Kristen, misalnya, menginginkan agar setiap kata-kata dalam peraturan Negara Indonesia sejalan dengan Bible , maka silahkan mereka bekerja dengan sungguh-sungguh agar sebagian besar delegasi yang menduduki badan perwakilan rakyat di Indonesia adalah orang-orang Kristen.

Kamis, 26 Mei 2011

PENERAPAN WAWASAN KEBANGSAAN BAGI GENERASI MUDA

A. Pengantar
Bangsa Indonesia yang menghuni Negara Kesatuan Republik Indonesia ini adalah sebuah bangsa yang besar. Negara dengan jumlah penduduk ± 212.000.000 orang ini merupakan negara kepulauan yang terbesar di dunia. Keadaan tanahnya yang subur dan terletak diantara dua benua serta dua samudra besar membuat posisi geografis Indonesia sangat strategis menyebabkan banyak bangsa-bangsa lain di dunia sejak dulu ingin menguasai bumi Nusantara ini. Kondisi geografis yang sangat menguntungkan bangsa ini diperindah lagi dengan keanekaragaman suku, etnis, agama, bahasa dan adat istiadat, namun sangat rentan terhadap perpecahan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu dalam pengelolaan sebuah "negara bangsa" diperlukan suatu cara pandang atau wawasan yang berorientasi nasional (Wawasan Nasional) dan merupakan suatu kesepakatan bangsa Indonesia yang dikenal dengan "Wawasan Nusantara".

NasionaliS

Nasionalisme merupakan tali pengikat yang kuat, yakni paham yang menyatakan bahwa kesetiaan individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan, sebagai ikatan yang erat terhadap tumpah darahnya. Keinginan untuk bersatu, persamaan nasib akan melahirkan rasa nasionalitas yang berdampak pada munculnya kepercayaan diri, rasa yang amat diperlukan untuk mempertahankan diri dalam perjuangan menempuh suatu keadaan yang lebih baik. Dua faktor penyebab munculnya nasionalisme, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor pertama sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penjajah yang menimbulkan perlawanan rakyat dalam bentuk pemberontakan atau peperangan. Sedang faktor kedua sebagai renaissance yang dianggap simbol kepercayaan atas kemampuan diri sendiri.

LAHIRNYA PANCASILA

Paduka Tuan Ketua Yang Mulia!

Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pendapat saya. Saya akan menetapi permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka Tuan Ketua yang mulia? Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini.

REVITALISASI PANCASILA, Upaya membentuk Generasi mudah yang Sadar dan terdidik

PROSES PERUMUSAN PANCASILA
SEBAGAI DASAR NEGARA

Keterlibatan Jepang dalam perang dunia ke 2 membawa sejarah baru dalam kehidupan bangsa Indonesia yang di jajah Belanda ratusan tahun lamanya. Hal ini disebabkan bersamaan dengan masuknya tentara Jepang tahun 1942 di Nusantara, maka berakhir pula suatu sistem penjajahan bangsa Eropa dan kemudian digantikan dengan penjajahan baru yang secara khusus diharapkan dapat membantu mereka yang terlibat perang.
Menjelang akhir tahun 1944 bala tentara Jepang secara terus menerus menderita kekalahan perang dari sekutu. Hal ini kemudian membawa perubahan baru bagi pemerintah Jepang di Tokyo dengan janji kemerdekaan yang di umumkan Perdana Mentri Kaiso tanggal 7 september 1944 dalam sidang istimewa Parlemen Jepang (Teikoku Gikai) ke 85. Janji tersebut kemudian diumumkan oleh Jenderal Kumakhichi Haroda tanggal 1 maret 1945 yang merencanakan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Selasa, 24 Mei 2011

Mutiara Kata, Perjalanan Hidup Manusia

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan.
Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.


Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesilapannya ,cukup bijak untuk mengambil manfaat daripada kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesilapannya

Dalam hidup,terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahawa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

Islam dan Transformasi Budaya Lokal

Islam dan Transformasi Budaya Lokal

M. Jadul Maula

Tiadakah engkau lihat bagaimana Allah menciptakan metafora tentang “kalimat yang baik” sebagaimana “pohon yang baik”, akarnya kuat (terhunjam) dan cabangnya ke langit (menjulang). Pohon itu menghasilkan buahnya setiap saat, atas izin Tuhannya. Dan Allah mencipta metafora bagi manusia, supaya mereka ingat selalu. Juga, tentang metafora “kalimat yang buruk” seperti “pohon yang buruk”, yang tercerabut dari akar bumi, jadilah ia tanpa kekuatan. [Q.S. Ibrahim: 24-26]

PESANTREN DAN PERDAMAIAN REGIONAL

PESANTREN DAN PERDAMAIAN REGIONAL
Badrus Sholeh* dan Abdul Mun’im DZ**
*Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UIN Jakarta, dan Peneliti Pusat Studi Perdamaian LP3ES Jakarta.**Direktur NU Online, dan Peneliti Senior CESDA-LP3ES Jakarta.

Pesantren di Indonesia berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan lingkungannya. Kiprah komunitasnya seiring dengan tuntutan zaman, sesuatu yang berbeda dengan sistem pendidikan Islam di beberapa negara (madrasah di Pakistan, pondok di Malaysia). Dinamika mereka ditopang dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, yang peduli terhadap perkembangan pesantren. Beberapa pengamat pesantren melihat sebagai suksesnya pesantren dalam menghadapi tekanan luar, baik dari negara, masyarakat maupun global. Karl Steenbrink dan Zamakhsyari Dlofier memandang dinamika komunitas pesantren dipengaruhi beberapa aspek: sistem nilai pendidikannya yang fleksibel, kuatnya hubungan elemen tradisi pesantren, dan kebebasan yang diberikan oleh negara terhadap pertumbuhan lembaga pendidikan Islam. Dinamika ini berlangsung sejak masa kolonial, dengan mulainya jaringan ulama melayu dan Arab.

Senin, 23 Mei 2011

“PENGARUH ZAKAT TERHADAP VARIABEL MAKRO EKONOMI INDONESIA”

“PENGARUH ZAKAT TERHADAP VARIABEL MAKRO EKONOMI INDONESIA”
Eko Suprayitno, SE., M.Si

Latar Belakang Penelitian - Lahirnya Undang-undang Pajak No.17/2000 yang memungkinkan pembayaran pajak bias terkurangi dengan pembayaran zakat. Dan juga kehadiran Undang-undang No. 38 tahun 1999 tentang pengelolaan zakat.
- Dalam kondisi krisis ekonomi yang berkelanjutan, sangat sulit mengandalkan pengentasan kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan pproduksi, peningkatan lapangan kerja dan sebagainya melalui APBN sangatlah terbatas, sehingga pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk memberikan jaminan social kepada rakyatnya tidak mampu.

SIASAT KOMUNITAS ABULUNG DALAM MENGHADAPI REZIM SYARIAT

SIASAT KOMUNITAS ABULUNG DALAM MENGHADAPI REZIM SYARIAT
(Studi Kasus Kelompok Islam Marjinal di Takisung Kalimantan Selatan)
Oleh : Humaidy

A. Pendahuluan
Dalam konteks sosial, keberadaan agama mengemban dua fungsi sekaligus, yaitu memupuk persaudaraan dan perpecahan. Isu-isu keagamaan menjadi salah satu penyebab perang, keyakinan agama sering menimbulkan sikap tidak toleran, loyalitas agama hanya menyatukan sekelompok orang dan memisahkan dari kelompok lainnya. Keragaman agama dan keragaman aliran dalam interen agama itu sendiri justru menjadikan orang saling membenci dan tidak cukup untuk menjadikannya untuk saling berdamai dan saling mencintai.

DELIK PENODAAN AGAMA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA DALAM RUU KUHP

DELIK PENODAAN AGAMA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA
DALAM RUU KUHP

Rumadi
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
I. Acuan Pemikiran
Secara normatif, jaminan kebebasan kehidupan beragama di Indonesia sebenarnya cukup kuat. Namun, keindahan aturan-aturan normatif tidak serta merta indah pula dalam kenyataannya. Banyak sekali warga Negara Indonesia yang merasa dikekang kebebasannya dalam memeluk agama dan berkeyakinan. Kebebasan itu hanya ada dalam agama yang “diakui” pemerintah, artinya kalau memeluk agama di luar agama yang “diakui” itu maka ada efek yang dapat mengurangi hak-hak sipil warga negara. Bahkan, orang yang mempunyai keyakinan tertentu, bias dituduh melakukan penodaan agama. Keyakinan keagamaan kelompok Lia “Eden” Aminuddin misalnya, bisa dituduh melakukan penodaan agama dan divonis 2 tahun karena melanggar KUHP pasal 156a. Hal ini merupakan contoh telanjang betapa diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan, meski diingkari oleh perundang-undangan kita, namun dalam realitasnya berbeda.

LINGUISTIK

FASAL I
BAHASA DAN KEHIDUPAN BAHASA


Ada banyak definisi bahasa, antara lain definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Jinni. Menurut Ibnu Jinni (391 H), bahasa adalah bunyi yang diungkapkan oleh setiap kaum untuk menyatakan tujuannya. Ini merupakan definisi yang cermat, yang menyebutkan banyak aspek distingtif bahasa. Pertama-tama Ibnu Jinni menegaskan tabiat bunyi bahasa; mengemukakan fungsi sosial bahasa dalam ekspresi dan mengalihkan pikiran; dan mengemukakan bahwa bahasa dipakai di masyarakat. Maka setiap kaum memiliki bahasa. Para linguis modern mengemu-kakan berbagai definisi bahasa. Semua definisi modern ini menegaskan tabiat bunyi bahasa, fungsi sosial bahasa, dan variasi konstruksi bahasa dari satu masyarakat ke masyarakat lain.

Rabu, 30 Maret 2011

" REMAJA "

WIIHHH!! Kenakalan remaja. Serem layaWW!! Mengatasi dan Mencegah Kenakalan Remaja, ya, inilah tips kali ini yang akan kita bahas.
Terkadang saat mendengar kata remaja, yang terlintas hal-hal brutal, nakal, merusak, liar dan sederet hal-hal negatif  lainnya. Padahal para remaja pada keemasan islam taklah berlaku demikian..
Banyak anak dibawah umur--remaja-- yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan tindakan kriminal lainnya. Tentu ini menjadi hal yang menyayat jiwa kita--PRIHATIN!
Sebelum kita menyapa Tips Mengatasi dan Mencegah Kenakalan Remaja, saya akan kemukakan faktor-faktor timbulnya Kenakalan Remaja yakni :

Wawasan Al-Qur'an & KEBANGSAAN

"Kebangsaan" terbentuk dari kata  "bangsa"  yang  dalam  Kamus
Besar    Bahasa   Indonesia,   diartikan   sebagai   "kesatuan
orang-orang yang bersamaan asal keturunan,  adat,  bahasa  dan
sejarahnya,    serta   berpemerintahan   sendõri."   Sedangkan
kebangsaan diartikan sebagai "ciri-ciri yang menandai golongan
bangsa."
 
Para  pakar  berbeda  pendapat  tentang unsur-unsur yang harus
terpenuhi untuk menamai suatu kelompok manusia sebagai bangsa.
Demikian  pula  mereka berbeda pendapat tentang ciri-ciri yang
mutlak harus terpenuLi guna  terwujudnya  sebuah  bangsa  atau
kebangsaan.  Hal  ini  merupakan kesulitan tersendiri di dalam
upaya memahami pandangan Al-Quran tentang paham kebangsaan.
 
Di sisi lain, paham kebangsaan --pada dasarnya-- belum dikenal
pada  masa  turunnya  Al-Quran.  Paham  ini  baru  muncul  dan
berkembang di Eropa sejak akhir  abad  ke-18,  dan  dari  sana
menyebar ke seluruh dunia Islam.
 
Memang,  keterikatan  kepada tanah tumpah darah, adat istiadat
leluhur, serta penguasa setempat  telah  menghiasi  jiwa  umat
manusia   sejak   dahulu   kala,   tetapi   paham   kebangsaan
(nasionalisme) dengan pengertiannya  yang  lumrah  dewasa  ini
baru dikenal pada akhir abad ke-18.
 
Yang  pertama kali memperkenalkan paham kebangsaan kepada umat
Islam adalah Napoleon pada saat ekspedisinya ke Mesir. Lantas,
seperti  telah  diketahui,  setelah  Revolusi  1789,  Perancis
menjadi salah  satu  negara  besar  yang  berusaha  melebarkan
sayapnya.  Mesir yang ketika itu dikuasai oleh para Mamluk dan
berada di bawah naungan kekhalifahan Utsmani, merupakan  salah
satu wilayah yang diincarnya. Walaupun penguasa-penguasa Mesir
itu beragama  Islam,  tetapi  mereka  berasal  dari  keturunan
orang-orang  Turki.  Napoleon  mempergunakan  sisi  ini  untuk
memisahkan  orang-orang  Mesir  dan  menjauhkan  mereka   dari
penguasa  dengan  menyatakan  bahwa  orang-orang Mamluk adalah
orang asing yang tinggal di Mesir. Dalam maklumatnya, Napoleon
memperkenalkan  istilah Al-Ummat Al-Mishriyah, sehingga ketika
itu istilah baru ini mendampingi istilah yang selama ini telah
amat dikenal, yaitu Al-Ummah Al-Islamiyah
 
Al-Ummah  Al-Mishriyah  dipahami dalam arti bangsa Mesir. Pada
perkembangan   selanjutnya   lahirlah   ummah    lain,    atau
bangsa-bangsa lain.
 
MENEMUKAN WAWASAN KEBANGSAAN DALAM AL-QURAN
 
Untuk  memahami  wawasan  Al-Quran  tentang  paham kebangsaan,
salah satu pertanyaan yang dapat muncul adalah,  "Kata  apakah
yang   sebenarnya  dipergunakan  oleh  kitab  suci  itu  untuk
menunjukkan konsep bangsa atau kebangsaan? Apakah sya'b, qaum,
atau ummah?"
 
Kata  qaum dan qaumiyah sering dipahami dengan arti bangsa dan
kebangsaan. Kebangsaan Arab dinyatakan oleh  orang-orang  Arab
dewasa    ini   dengan   istilah   Al-Qaumiyah   Al-'Arabiyah.
Sebelumnya, Pusat Bahasa Arab  Mesir  pada  1960,  dalam  buku
Mu'jam Al-Wasith menerjemahkan "bangsa" dengan kata ummah.
 
Kata   sya'b   juga  diterjemahkan  sebagai  "bangsa"  seperti
ditemukan  dalam  terjemahan  Al-Quran   yang   disusun   oleh
Departemen Agama RI, yaitu ketika menafsirkan surat Al-Hujurat
(49): 13.
 
Apakah  untuk  memahami   wawasan   Al-Quran   tentang   paham
kebangsaan  perlu  merujuk  kepada  ayat-ayat yang menggunakan
kata-kata tersebut, sebagaimana ditempuh oleh  sebagian  orang
selama   ini?  Misalnya,  dengan  menunjukkan  Al-Quran  surat
Al-Hujurat (49): 13 yang bisa diterjemahkan:
 
     Wahai seluruh manusia, sesungguhnya Kami telahi
     menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang
     perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa
     dan bersuku-suku, agar kamu saling mengenal.
     Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi
     Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah
     Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
 
Apakah dari ayat  ini,  nampak  bahwa  Islam  mendukung  paham
kebangsaan karena Allah telah menciptakan manusia bersuku-suku
dan berbangsa-bangsa?
 
Mestikah untuk mendukung atau menolak paham  kebangsaan,  kata
qaum  yang  ditemukan  dalam  Al-Quran  sebanyak  322 kali itu
ditoleh? Dapatkah dikatakan bahwa pengulangan yang  sedemikian
banyak,   merupakan   bukti  bahwa  Al-Quran  mendukung  paham
kebangasaan? Bukankah para Nabi menyeru masyarakatnya  dengan,
"Ya  Qaumi"  (Wahai  kaumku/bangsaku),  walaupun  mereka tidak
beriman kepada ajarannya? (Perhatikan misalnya Al-Quran  surat
Hud (11): 63, 64, 78, 84, dan lain-lain!).
 
Di  sisi  lain,  dapatkah  dibenarkan pandangan sebagian orang
yang bermaksud mempertentangkan Islam dengan paham kebangsaan,
dengan    menyatakan   bahwa   Allah   Swt.   dalam   Al-Quran
memerintahkan Nabi Saw. untuk menyeru masyarakat tidak  dengan
kata  qaumi, tetapi, "Ya ayyuhan nas" (wahai seluruh manusia),
serta menyeru kepada masyarakat yang mengikutinya  dengan  "Ya
ayyuhal   ladzina   'amanu?"  Benarkah  dalam  Al-Quran  tidak
ditemukan bahwa Nabi Muhammad Saw. menggunakan kata qaum untuk
menunjuk  kepada  masyarakatnya, seperti yang ditulis sebagian
orang? [1]
 
Catatan kaki:
 
[1] Pernyataan terakhir ini dapat dipastikan tidak
     benar, karena dalam Al-Quran surat Al-Furqan (25): 30
     secara tegas dinyatakan, bahwa Rasulullah saw.
     mengeluh kepada Allah, dengan mengatakan,
     "Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sesuatu
     yang tidak diacuhkan."
 
Hemat penulis untuk menemukan wawasan Al-Quran  tentang  paham
kebangsaan,  tidak  cukup  sekadar  menoleh  kepada  kata-kata
tersebut  yang  digunakan  oleh  Al-Quran,  karena  pengertian
semantiknya  dapat  berbeda  dengan  pengertian yang dikandung
oleh kata bangsa atau kebangsaan. Kata sayyarah yang ditemukan
dalam  Al-Quran misalnya, masih digunakan dewasa ini, meskipun
maknanya sekarang  telah  berubah  menjadi  mobil.  Makna  ini
tentunya  berbeda  dengan  maksud Al-Quran ketika menceritakan
ucapan saudara-saudara Nabi Yusuf  a.s.  yang  membuangnya  ke
dalam  sumur  dengan  harapan  dipungut  oleh  sayyarah  yakni
kafilah atau rombongan musafir. (Baca QS Yusuf [12]: 10).
 
Kata qaum misalnya, pada mulanya terambil dari kata qiyam yang
berarti "berdiri atau bangkit". Kata qaum agaknya dipergunakan
untuk  menunjukkan  sekumpulan  manusia  yang  bangkit   untuk
berperang  membela  sesuatu. Karena itu, kata ini pada awalnya
hanya digunakan untuk lelaki, bukan  perempuan  seperti  dalam
firman Allah:
 
     Janganlah satu qaum (kumpulan lelaki) mengejek qaum
     (kumpulan lelaki) yang lain. Jangan pula (kumpulan
     perempuan) mengejek (kumpulan) perempuan yang lain,
     karena boleh jadi mereka (yang diejek) lebih baik
     daripada mereka (yang mengejek) (QS Al-Hujurat [49]:
     11).
 
Kata sya'b, yang hanya sekali ditemukan  dalam  Al-Quran,  itu
pun  berbentuk  plural,  dan pada mulanya mempunyai dua makna,
cabang dan rumpun. Pakar bahasa Abu 'Ubaidah --seperti dikutip
oleh  At-Tabarsi  dalam tafsirnya-- memahami kata sya'b dengan
arti kelompok non-Arab, sama dengan  qabilah  untuk  suku-suku
Arab.
 
Betapapun,  kedua  kata  yang  disebutkan  tadi, dan kata-kata
lainnya,  tidak  menunjukkan  arti  bangsa  sebagaimana   yang
dimaksud pada istilah masa kini.
 
Hal  yang  dikemukakan  ini,  tidak  lantas  menjadikan  surat
Al-Hujurat  yang   diajukan   tertolak   sebagai   argumentasi
pandangan  kebangsaan yang direstui Al-Quran. Hanya saja, cara
pembuktiannya tidak sekadar menyatakan bahwa kata  sya'b  sama
dengan bangsa atau kebangsaan.
 
APAKAH YANG DIMAKSUD PAHAM KEBANGSAAN?
 
Apakah yang dimaksud dengan paham kebangsaan?  Sungguh  banyak
pendapat  yang  berbeda  satu  dengan yang lain. Demikian pula
dengan pertanyaan yang muncul disertai jawaban  yang  beragam,
misalnya:
 
Apakah mutlak adanya kebangsaan, kesamann asal keturunan, atau
bahasa? Apakah yang  dimaksud  dengan  keturunan  dan  bahasa?
Apakah kebangsaan merupakan persamaan ras, emosi, sejarah, dan
cita-cita meraih masa depan? Unsur-unsur apakah yang mendukung
terciptanya kebangsaan? Dan masih ada sekian banyak pertanyaan
lain. Sehingga mungkin benar  pula  pendapat  yang  menyatakan
bahwa  paham  kebangsaan adalah sesuatu yang bersifat abstrak,
tidak dapat disentuh; bagaikan listrik, hanya diketahui gejala
dan bukti keberadaannya, namun bukan unsur-unsurnya.
 
Pertanyaan  yang  antara lain ingin dimunculkan adalah "Apakah
unsur-unsur tersebut dapat  diterima,  didukung,  atau  bahkan
inklusif  di dalam ajaran Al-Quran? Dapatkah Al-Quran menerima
wadah  yang  menghimpun  keseluruhan  unsur   tersebut   tanpa
mempertimbangkan  kesatuan  agama? Berikut ini akan dijekaskan
beberapa konsep yang mendasari paham kebangsaan.
 
1. Kesatuan/Persatuan
 
Tidak dapat disangkal bahwa Al-Quran  memerintahkan  persatuan
dan  kesatuan.  Sebagaimana  secara  jelas pula Kitab suci ini
menyatakan bahwa "Sesungguhnya umatmu  ini  adalah  umat  yang
satu" (QS Al-Anbiya' [2l]: 92, dan Al-Mu'minun [23]: 52).
 
Pertanyaan  yang  dapat  saja muncul berkaitan dengan ayat ini
adalah:
 
  a) Apakah ayat ini dan semacamnya mengharuskan
     penyatuan seluruh umat Islam dalam satu wadah
     kenegaraan?
     
  b) Kalau tidak, apakah dibenarkan adanya
     persatuan/kesatuan yang diikat oleh unsur-unsur yang
     disebutkan di atas, yakni persamaan asal keturunan,
     adat, bahasa, dan sejarah?
 
Yang  harus  dipahami  pertama  kali  adalah  pengertian   dan
penggunaan  Al-Quran terhadap kata ummat. Kata ini terulang 51
kali dalam Al-Quran, dengan makna yang berbeda-beda.
 
Ar-Raghib  Al-Isfahani  --pakar  bahasa  yang  menyusun  kamus
Al-Quran  Al-Mufradat  fi  Ghanb  Al-Quran-- menjelaskan bahwa
ummat  adalah  "kelompok  yang  dihimpun  oleh  sesuatu,  baik
persamaan  agama,  waktu,  atau tempat, baik pengelompokan itu
secara terpaksa maupun atas kehendak sendiri."
 
Memang, tidak hanya manusia yang berkelompok  dinamakan  umat,
bahkan binatang pun demikian.
 
     Dan tiadalah binatang-binatang melata yang ada yang di
     bumi, tiada juga burung-burung yang terbang dengan
     kedua sayapnya, kecuali umat-umat seperti kamu ... (0S
     Al-An'am [6]: 38).
 
Jumlah anggota suatu umat tidak dijelaskan oleh Al-Quran.  Ada
yang  berpendapat  minimal  empat  puluh  atau  seratus orang.
Tetapi, sekali lagi Al-Quran pun menggunakan kata umat  bahkan
untuk  seseorang yang memiliki sekian banyak keistimewaan atau
jasa, yang biasanya hanya dimiliki  oleh  banyak  orang.  Nabi
Ibrahim a.s. misalnya disebut sebagai umat oleh Al-Quran surat
An-Nahl (16): 20 karena alasan itu.
 
     Sesungguhnya Ibrahim adalah umat (tokoh yang dapat
     dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah, hanif dan
     tidak pernah termasuk orang yang mempersekutukan
     (Tuhan) (QS An-Nahl [16]: 120).
 
Kalau demikian, dapat dikatakan bahwa makna  kata  umat  dalam
Al-Quran sangat lentur, dan mudah menyesuaikan diri. Tidak ada
batas  minimal  atau  maksimal  untuk  suatu  persatuan.  Yang
membatasi  hanyalah  bahasa,  yang  tidak  menyebutkan  adanya
persatuan tunggal.

KEBANGSAAN                                               (2/3)
 
Di sisi lain, dalam Al-Quran ternyata ditemukan sembilan  kali
kata  ummat  yang  digandengkan  dengan  kata wahidah, sebagai
sifat umat. Tidak  sekali  pun  Al-Quran  menggunakan  istilah
Wahdat  Al-Ummah  atau  Tauhid  Al-Ummah  (Kesatuan/ penyatuan
umat). Karena itu, sungguh tepat analisis Mahmud Hamdi Zaqzuq,
mantan   Dekan   Fakultas   Ushuluddin  Al-Azhar  Mesir,  yang
disampaikan pada pertemuan Cendekiawan Muslim di Aljazair 1409
H/ 1988 M, bahwa Al-Quran menekankan sifat umat yang satu, dan
bukan pada penyatuan umat, ini juga berarti bahwa  yang  pokok
adalah persatuan, bukan penyatuan.
 
Perlu  pula  digarisbawahi,  bahwa  makna  umat  dalam konteks
tersebut adalah pemeluk agama Islam.  Sehingga  ayat  tersebut
pada hakikatnya menyatakan bahwa agama umat Islam adalah agama
yang satu dalam prinsip-prinsip (ushul)-nya,  tiada  perbedaan
dalam  akidahnya,  walaupun  dapat  berbeda-beda dalam rincian
(furu')  ajarannya.   Artinya,   kitab   suci   ini   mengakui
kebhinekaan dalam ketunggalan.
 
Ini  juga  sejalan  dengan  kehendak  Ilahi,  antara lain yang
dinyatakan-Nya dalam Al-Quran surat Al-Ma-idah (5): 48:
 
     Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan
     kamu satu umat (saja).
 
Tetapi itu tidak dikehendaki-Nya. Sebagaimana  terpahami  dari
perandaian  kata  lauw,  yang  oleh  para  ulama  dinamai harf
imtina' limtina',  atau  dengan  kata  lain,  mengandung  arti
kemustahilan.
 
Kalau demikian, tidak dapat dibuktikan bahwa Al-Quran menuntut
penyatuan umat Islam seluruh dunia pada satu  wadah  persatuan
saja, dan menolak paham kebangsaan.
 
Jamaluddin  Al-Afghani, yang dikenal sebagai penyeru persatuan
Islam (Liga Islam atau Pan-Islamisme), menegaskan bahwa idenya
itu  bukan  menuntut  agar  umat  Islam  berada  di bawah satu
kekuasaan,  tetapi  hendaknya  mereka  mengarah  kepada   satu
tujuan,   serta   saling  membantu  untuk  menjaga  keberadaan
masing-masing.
 
     Janganlah kamu menjadi seperti mereka yang
     berkelompok-kelompok dan berselisih, setelah datang
     penjelasan kepada mereka ... (QS Ali 'Imran [3]: 105).
 
Kalimat "dan  berselisih"  digandengkan  dengan  "berkelompok"
untuk mengisyaratkan bahwa yang terlarang adalah pengelompokan
yang mengakibatkan perselisihan.
 
Kesatuan umat Islam tidak berarti dileburnya segala perbedaan,
atau   ditolaknya   segala   ciri/sifat   yang  dimiliki  oleh
perorangan, kelompok, asal keturunan, atau bangsa.
 
Kelenturan kandungan  makna  ummat  seperti  yang  dikemukakan
terdahulu mendukung pandangan ini. Sekaligus membuktikan bahwa
dalam banyak hal Al-Quran hanya mengamanatkan nilai-nilai umum
dan  menyerahkan  kepada masyarakat manusia untuk menyesuaikan
diri dengan nilai-nilai umum itu.  Ini  merupakan  salah  satu
keistimewaan  Al-Quran  dan  salah  satu  faktor kesesuaiannya
dengan setiap waktu dan tempat.
 
Dengan demikian,  terjawablah  pertanyaan  pertama  itu  yakni
Al-Quran  tidak  mengharuskan  penyatuan seluruh umat Islam ke
dalam  satu  wadah  kenegaraan.  Sistem  kekhalifahan   --yang
dikenal  sampai masa kekhalifahan Utsmaniyah-- hanya merupakan
salah  satu  bentuk  yang  dapat  dibenarkan,   tetapi   bukan
satu-satunya bentuk baku yang ditetapkan. Oleh sebab itu, jika
perkembangan  pemikiran  manusia  atau  kebutuhan   masyarakat
menuntut  bentuk  lain,  hal  itu  dibenarkan pula oleh Islam,
selama  nilai-nilai  yang   diamanatkan   maupun   unsur-unsur
perekatnya tidak bertentangan dengan Islam.
 
2. Asal Keturunan
 
Tanpa  mempersoalkan  perbedaan makna dan pandangan para pakar
tentang kemutlakan  unsur  "persamaan  keturunan",  dalam  hal
kebangsaan,  atau  melihat  kenyataan  bahwa tiada satu bangsa
yang hidup pada masa kini  yang  semua  anggota  masyarakatnya
berasal  dari  keturunan  yang  sama,  tanpa mempersoalkan itu
semua dapat ditegaskan bahwa salah satu tujuan kehadiran agama
adalah  memelihara keturunan. Syariat perkawinan dengan syarat
dan rukun-rukunnya, siapa yang boleh dan tidak boleh  dikawini
dan  sebagainya,  merupakan  salah  satu  cara  Al-Quran untuk
memelihara keturunan.
 
Al-Quran menegaskan bahwa Allah Swt. menciptakan manusia  dari
satu  keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras
manusia), agar mereka saling  mengenal  potensi  masing-masing
dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
 
Ini  berarti bahwa Al-Quran merestui pengelompokan berdasarkan
keturunan,  selama  tidak   menimbulkan   perpecahan,   bahkan
mendukungnya demi mencapai kemaslahatan bersama.
 
Dari beberapa ayat Al-Quran, dapat ditarik pembenaran hal ini,
atau paling  tidak  "tiada  penolakan"  terhadapnya.  Misalnya
dalam Al-Quran surat Al-A'raf (7): 160:
 
     Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang
     masing-masing menjadi umat, dan Kami wahyukan kepada
     Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya, "Pukullah
     batu itu dengan tongkatmu!" Maka memancarlah darinya
     dua belas mata air...
 
Rasul Muhammad Saw. sendiri pernah diperintahkan oleh Al-Quran
surat  AsyS-yu'ara'  ayat  214  agar memberi peringatan kepada
kerabat dekatnya. Hal itu menunjukkan bahwa penggabungan  diri
ke dalam satu wadah kekerabatan dapat disetujui oleh Al-Quran,
apalagi menggabungkan diri pada wadah yang lebih besar semacam
kebangsaan.
 
Piagam Madinah (Kitabun Nabi) yang diprakarsai oleh Rasulullah
Saw.  ketika  beliau  baru  tiba  di   Madinah   yang   berisi
ketentuan/kesepakatan  yang mengikat masyarakat Madinah justru
mengelompokkan  anggotanya  pada   suku-suku   tertentu,   dan
masing-masing  dinamai  ummat.  Kemudian,  mereka yang berbeda
agama itu bersepakat menjalin persatuan  ketika  membela  kota
Madinah dari serangan musuh.
 
Nabi  Luth  a.s.  sebagaimana  dikemukakan  Al-Quran, mengeluh
karena  kaum  atau  bangsanya  tidak  menerima  dakwahnya.  Ia
mengeluh sambil berkata:
 
     Seandainya aku mempunyai kekuatan denganmu, atau kalau
     aku dapat berlindung niscaya aku lakukan (QS Hud [11]:
     80).
 
Yang dimaksud dengan "kekuatan" adalah pembela  dan  pembantu,
yang  dimaksud dengan perlindungan adalah keluarga dan anggota
masyarakat atau bangsa.
 
Rasulullah Saw. sendiri dalam  perjuangan  di  Makkah,  justru
mendapat  pembelaan  dari  keluarga  besar  beliau,  baik yang
percaya maupun yang tidak. Dan ketika terjadi pemboikotan dari
penduduk Makkah, mereka memboikot Nabi dan keluarga besar Bani
Hasyim. Abu Thalib yang bukan anggota masyarakat Muslim ketika
itu  dengan  tegas  berkata,  "Demi  Allah'  kami  tidak  akan
menyerahkannya (Nabi Muhammad Saw.) sampai yang terakhir  dari
kami gugur."
 
Sejalan  dengan  kenyataan  di  atas  Nabi Saw. pernah khutbah
dengan menyatakan:
 
     Sebaik-baik kamu adalah pembela keluarga besarnya
     selama (pembelaannya) bukan dosa (HR Abu Daud melalui
     sahabat Suraqah bin Malik).
 
Hanya  saja  pengelompokan  dalam  suku  bangsa  tidak   boleh
menyebabkan   fanatisme   buta,   apalagi   menimbulkan  sikap
superioritas, dan pelecehan.  Rasulullah  Saw.  mengistilahkan
hal itu dengan al-'ashabiyah.
 
     Bukanlah dari kelompok kita yang mengajak kepada
     'ashabiyyah, bukan juga yang berperang atas dasar
     'ashabiyah, bukan juga yang mati dengan keadaan
     (mendukung) 'ashabiyyah (HR Abu Daud dari sahabat
     Jubair bin Muth'im).
 
Rasulullah  Saw.  mempergunakan  ungkapan  yang   populer   di
kalangan   orang-orang  Arab  sebelum  Islam,  "Unshur  akhaka
zhalim(an) au mazhlum(an)" (Belalah saudaramu yang  menganiaya
atau  dianiaya),  sambil  menjelaskan bahwa pembelaan terhadap
orang yang melakukan penganisyaan  adalah  dengan  mencegahnya
melakukan penganiayaan (HR Bukhari melalui Anas bin Malik).
 
Walaupun   Al-Quran   mengakui  adanya  kelompok  suku,  namun
Al-Quran  juga  mengisyaratkan  bahwa  sesuatu  yang  memiliki
kesamaan  sifat  dapat  digabungkan ke dalam satu wadah. Iblis
yang dalam Al-Quran surat Al-Kahf  (18):  50  dinyatakan  dari
jenis  jin.  Sesungguhnya  ia  (Iblis)  adalah dari jenis Jin,
dimasukkan Allah dalam kelompok  malaikat  yang  diperintahkan
sujud  kepada  Adam.  Karena,  ketika  itu,  Iblis begitu taat
beragama,  tidak  kalah  dari  ketaatan  para  malaikat.   Itu
sebabnya  walaupun  yang  diperintah  untuk  sujud kepada Adam
adalah para malaikat (QS Al-A'raf [7]: 11) tetapi  Iblis  yang
dari  kelompok  jin  yang  telah bergabung dengan malaikat itu
termasuk diperintah, karenanya ketika enggan  ia  dikecam  dan
dikutuk Tuhan.
 
Dalam  konteks  paham  kebangsaan,  Rasulullah Saw. memasukkan
sahabatnya  Salman,  Suhaib,  dan  Bilal  yang   masing-masing
berasal  dari  Persia, Romawi, dan Habasyah (Etiopia) ke dalam
kelompok orang Arab.
 
Ibnu 'Asakir dalam  tarikhnya  meriwayatkan,  ketika  sebagian
sahabat meremehkan ketiga orang tersebut, Nabi Saw. bersabda:
 
     Kearaban yang melekat dalam diri kalian bukan
     disebabkan karena ayah dan tidak pula karena ibu,
     tetapi karena bahasa, sehingga siapapun yang berbahasa
     Arab, dia adalah orang Arab.
 
Bahkan Salman Al-Farisi dinyatakan  Nabi  sebagai  "minna  Ahl
Al-Bait  (dari  kelompok  kita  [Ahl  Al-Bait]), karena beliau
begitu dekat secara pribadi kepada Nabi dan keluarganya, serta
memiliki pandangan hidup yang sama dengan Ahl Al-Bait.
 
Keterikatan kepada asal keturunan sama sekali tidak terhalangi
oleh agama,  bahkan  inklusif  di  dalam  ajarannya.  Bukankah
Al-Quran  dalam  surat  Al-Ahzab  ayat  5  memerintahkan untuk
memelihara keturunan dan  memerintahkan  untuk  menyebut  nama
seseorang bergandengan dengan nama orang tuanya?
 
     Panggillah mereka (anak-anak angkat) dengan
     (menggandengkan namanya dengan nama) bapak-bapak
     mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah (QS
     Al-Ahzab [33]: 5).
 
3. Bahasa
 
Al-Quran menegaskan dalam surat Al-Rum (30):
 
     Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, adalah penciptaan
     langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu, dan
     warna kulitmu ...
 
Al-Quran demikian menghargai bahasa dan  keragamannya,  bahkan
mengakui penggunaan bahasa lisan yang beragam.
 
Perlu  ditandaskan  bahwa  dalam  konteks  pembicaraan tentang
paham   kebangsaan,   Al-Quran   amat    menghargai    bahasa,
sampai-sampai seperti yang disabdakan Nabi Saw.,
 
     Al-Quran diturunkan dalam tujuh bahasa (HR Muslim,
     At-Tirmidzi, dan Ahmad dengan riwayat yang
     berbeda-beda tetapi dengan makna yang sama).
 
Pengertian "tujuh bahasa" antara lain  adalah,  tujuh  dialek.
Menurut   sekian  keterangan,  ayat-ayat  Al-Quran  diturunkan
dengan  dialek  suku  Quraisy,  tetapi  dialek  ini   --ketika
Al-Quran   turun--   belum   populer   untuk  seluruh  anggota
masyarakat.  Sehingga  apabila  ada  yang   mengeluh   tentang
sulitnya  pengucapan atau pengertian makna kata yang digunakan
oleh ayat tertentu, Allah menurunkan wahyu lagi  yang  berbeda
kata-katanya agar menjadi mudah dibaca dan dimengerti. Sebagai
contoh  dalam  Al-Quran  surat  Al-Dukhan  (44):  43-44   yang
berbunyi,  "Inna  syajarat  al-zaqqum  tha'amul  atsim, pernah
diturunkan dengan mengganti kata atsim dengan fajir,  kemudian
turun  lagi  dengan  kata al-laim. Setelah bahasa suku Quraisy
populer di kalangan seluruh masyarakat,  maka  atas  inisiatif
Utsman  bin  Affan  (khalifah ketiga) bacaan disatukan kembali
sebagaimana tercantum dalam mushaf yang dibaca dewasa ini.
 
----------------                              (bersambung 3/3
EBANGSAAN                                               (3/3)
 
Pengertian  lain   dari   hadis   tersebut   adalah   Al-Quran
menggunakan  kosa  kata  dari  tujuh  (baca:  banyak)  bahasa,
seperti bahasa Romawi, Persia, dan Ibrani, misalnya kata-kata:
zamharir, sijjil, qirthas, kafur, dan lain-lain.
 
Untuk  menghargai perbedaan bahasa dan dialek, Nabi Saw. tidak
jarang  menggunakan  dialek   mitra   bicaranya.   Semua   itu
menunjukkan  betapa  Al-Quran  dan Nabi Saw. sangat menghargai
keragaman bahasa dan dialek. Bukankah seperti yang dikemukakan
tadi,   Allah  menjadikan  keragaman  itu  bukti  keesaan  dan
kemahakuasaan-Nya?
 
Nah,  bagaimana  kaitan  bahasa  dan  kebangsaan?  Tadi  telah
dikemukakan   hadis   yang   diriwayatkan  oleh  Ibnu  'Asakir
berkaitan dengan Salman, Bilal, dan Suhaib.  Pada  hakikatnya,
bahasa  memang  bukan  digunakan  sekadar  untuk  menyampaikan
tujuan pembicaraan dan yang  diucapkan  oleh  lidah.  Bukankah
sering  seseorang  berbicara  dengan dirinya sendiri? Bukankah
ada pula yang berpikir  dengan  suara  keras.  Kalimat-kalimat
yang   dipikirkan   dan   didendangkan   itu  merupakan  upaya
menyatakan pikiran dan  perasaan  seseorang?  Di  sini  bahasa
merupakan jembatan penyalur perasaan dan pikiran.
 
Karena  itu  pula  kesatuan bahasa mendukung kesatuan pikiran.
Masyarakat   yang   memelihara   bahasanya   dapat   memeliara
identitasnya,  sekaligus  menjadi  bukti keberadaannya. Itulah
sebabnya  mengapa  para  penjajah  sering  berusaha  menghapus
bahasa   anak   negeri  yang  dijajahnya  dengan  bahasa  sang
penjajah.
 
Al-Quran menuntut setiap pembicara agar hanya mengucapkan  hal
yang  diyakini,  dirasakan,  serta  sesuai  dengan  kenyataan.
Karena itu, tidak jarang Kitab Suci ini menggunakan kata  qala
atau  yaqulu  (dia  berkata,  dalam  arti  meyakini),  seperti
misalnya dalam surat Al-Baqarah (2): 116:
 
     Mereka berkata, "Allah mengambil anak". Mahasuci
     Allah, dengan arti mereka meyakini bahwa Allah
     mempunyai anak.
 
Salah satu sifat Ibadur Rahman (hamba-hamba Allah  yang  baik)
yang dijelaskan dalam surat Al-Furqan (25): 65 adalah:
 
     Mereka yang berkata, "Jauhkanlah siksa jahanam dari
     kami". Sesungguhnya azab-Nya adalah kebinasaan yang
     kekal
 
Ucapan  ini  bukan  sekadar  dengan  lidah  atau   permohonan,
melainkan  peringatan  sikap,  keyakinan  dan perasaan mereka,
karena  kalau  sekadar  permohonan,  apalah   keistimewaannya?
Bukankah  semua  orang  dapat bermohon seperti itu? Karena itu
tidak menyimpang jika dinyatakan bahwa bahasa pada  hakikatnya
berfungsi  menyatakan  perasaan  pikiran, keyakinan, dan sikap
pengucapnya.
 
Dalam konteks paham kebangsaan, bahasa pikiran, dan  perasaan,
jauh  lebih  penting  ketimbang  bahasa lisan, sekalipun bukan
berarti  mengabaikan  bahasa   lisan,   karena   sekali   lagi
ditekankan bahwa bahasa lisan adalah jembatan perasaan.
 
Orang-orang  Yahudi  yang bahasanya satu, yaitu bahasa Ibrani,
dikecam oleh Al-Quran dalam surat  Al-Hasyr  ayat  14,  dengan
menyatakan:
 
     Engkau menduga mereka bersatu, padahal hati mereka
     berkeping-keping.
 
Atas dasar semua itu, terlihat bahwa  bahasa,  saat  dijadikan
sebagai  perekat  dan  unsur  kesatuan umat, dapat diakui oleh
Al-Quran,  bahkan  inklusif  dalam   ajarannya.   Bahasa   dan
keragamannya  merupakan salah satu bukti keesaan dan kebesaran
Allah. Hanya saja harus diperhatikan bahwa dari  bahasa  harus
lahir  kesatuan  pikiran  dan  perasaan,  bukan  sekadar  alat
menyampaikan informasi.
 
4. Adat Istiadat
 
Pikiran dan perasaan satu kelompok/umat tercermin antara  lain
dalam adat istiadatnya.
 
Dalam konteks ini, kita dapat merujuk perintah Al-Quran antara
lain:
 
     Hendaklah ada sekelompok di antara kamu yang mengajak
     kepada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf dan
     mencegah yang mungkar (QS Ali 'Imran [3]: 104)
 
     Jadilah engkau pemaaf; titahkanlah yang 'urf (adat
     kebiasaan yang baik), dan berpalinglah dari orang yang
     jahil (QS Al-A'raf [7]: 199).
 
Kata  'urf  dan  ma'ruf  pada  ayat-ayat  itu  mengacu  kepada
kebiasaan  dan  adat  istiadat  yang tidak bertentangan dengan
al-khair, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam.
 
Rincian dan penjabaran kebaikan dapat  beragam  sesuai  dengan
kondisi dan situasi masyarakat. Sehingga, sangat mungkin suatu
masyarakat berbeda pandangan dengan masyarakat  lain.  Apabila
rincian   maupun  penjabaran  itu  tidak  bertentangan  dengan
prinsip ajaran agama, maka itulah yang dinamai 'urf/ma'ruf.
 
Imam  Bukhari  meriwayatkan,   bahwa   suatu   ketika   Aisyah
mengawinkan  seorang  gadis  yatim  kerabatnya  kepada seorang
pemuda dari kelompok Anshar (penduduk kota Madinah). Nabi yang
tidak  mendengar  nyanyian  pada  acara  itu,  berkata  kepada
Aisyah,   "Apakah   tidak   ada   permainan/nyanyian?   Karena
orang-orang Anshar senang mendengarkan nyanyian ..." Demikian,
Nabi Saw. menghargai adat-kebiasaan masyarakat Anshar.
 
Pakar-pakar hukum menetapkan bahwa adat kebiasaan dalam  suatu
masyarakat  selama  tidak  bertentangan  dengan prinsip ajaran
Islam, dapat dijadikan sebagai salah satu  pertimbangan  hukum
(al-adat  muhakkimah). Demikian ketentuan yang mereka tetapkan
setelah   menghimpun   sekian   banyak   rincian   argumentasi
keagamaan.
 
5. Sejarah
 
Agaknya,  persamaan  sejarah  muncul  sebagai unsur kebangsaan
karena unsur ini merupakan salah  satu  yang  terpenting  demi
menyatukan  perasaan, pikiran, dan langkah-langkah masyarakat.
Sejarah menjadi penting, karena  umat,  bangsa,  dan  kelompok
dapat  melihat  dampak  positif  atau  negatif pengalaman masa
lalu,  kemudian  mengambil  pelajaran  dari   sejarah,   untuk
melangkah  ke  masa  depan.  Sejarah  yang gemilang dari suatu
kelompok akan dibanggakan anggota kelompok serta keturunannya,
demikian pula sebaliknya.
 
Al-Quran  sangat menonjol dalam menguraikan peristiwa sejarah.
Bahkan  tujuan  utama  dari  uraian  sejarahnya  adalah   guna
mengambil   i'tibar   (pelajaran),   guna  menentukan  langkah
berikutnya.  Secara  singkat  dapat  dikatakan   bahwa   unsur
kesejarahan  sejalan  dengan  ajaran  Al-Quran. Sehingga kalau
unsur  ini  dijadikan  salah  satu   faktor   lahirnya   paham
kebangsaan,  hal ini inklusif di dalam ajaran Al-Quran, selama
uraian kesejarahan itu diarahkan untuk mencapai  kebaikan  dan
kemaslahatan
 
6. Cinta Tanah Air
 
Rasa   kebangsaan   tidak   dapat   dinyatakan  adanya,  tanpa
dibuktikan oleh patriotisme dan cinta tanah air.
 
Cinta tanah  air  tidak  bertentangan  dengan  prinsip-prinsip
agama,  bahkan  inklusif  di dalam ajaran Al-Quran dan praktek
Nabi Muhammad Saw.
 
Hal ini bukan sekadar dibuktikan melalui ungkapan populer yang
dinilai  oleh  sebagian  orang sebagai hadis Nabi Saw., Hubbul
wathan minal iman (Cinta tanah air adalah bagian  dari  iman),
melainkan  justru dibuktikan dalam praktek Nabi Muhammad Saw.,
baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.
 
Ketika Rasulullah Saw. berhijrah  ke  Madinah,  beliau  shalat
menghadap ke Bait Al-Maqdis. Tetapi, setelah enam belas bulan,
rupanya  beliau  rindu  kepada  Makkah  dan   Ka'bah,   karena
merupakan  kiblat  leluhurnya dan kebanggaan orang-orang Arab.
Begitu  tulis  Al-Qasimi   dalam   tafsirnya.   Wajah   beliau
berbolak-balik  menengadah  ke  langit,  bermohon  agar kiblat
diarahkan ke Makkah, maka Allah merestui keinginan ini  dengan
menurunkan firman-Nya:
 
     Sungguh Kami (senang) melihat wajahmu menengadah ke
     langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
     kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
     Masjid Al-Haram... (QS Al-Baqarah [2]: 144).
 
Cinta beliau kepada tanah tumpah darahnya tampak  pula  ketika
meninggalkan  kota  Makkah  dan  berhijrah  ke Madinah. Sambil
menengok ke kota Makkah beliau berucap:
 
     Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi Allah yang
     paling aku cintai, seandainya bukan yang bertempat
     tinggal di sini mengusirku, niscaya aku tidak akan
     meninggalkannya.
 
Sahabat-sahabat Nabi Saw.  pun  demikian,  sampai-sampai  Nabi
Saw. bermohon kepada Allah:
 
     Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami,
     sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada
     kami, bahkan lebih (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).
 
Memang, cinta  kepada  tanah  tumpah  darah  merupakan  naluri
manusia,  dan  karena itu pula Nabi Saw. menjadikan salah satu
tolok ukur kebahagiaan adalah "diperolehnya rezeki dari  tanah
tumpah  darah".  Sungguh benar ungkapan, "hujan emas di negeri
orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih  senang  di  negeri
sendiri."
 
Bahkan  Rasulullah  Saw.  mengatakan  bahwa  orang  yang gugur
karena membela  keluarga,  mempertahankan  harta,  dan  negeri
sendiri  dinilai sebagai syahid sebagaimana yang gugur membela
ajaran agama. Bahkan Al-Quran menggandengkan  pembelaan  agama
dan pembelaan negara dalam firman-Nya:
 
     Allah tidak melarang kamu berbuat baik, dan memberi
     sebagian hartamu (berbuat adil) kepada orang yang
     tidak memerangi kamu karena agama, dan tidak pula
     mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
     menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya
     Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu
     orang-orang yang memerangi kamu karena agama, mengusir
     kamu dari negerimu, dan membantu orang lain mengusirmu
     (QS Al-Mumtahanah [60]: 8-9).
 
                              ***
 
Dari uraian di  atas  terlihat  bahwa  paham  kebangsaan  sama
sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah.
 
Bahkan  semua  unsur  yang melahirkan paham tersebut, inklusif
dalam ajaran  Al-Quran,  sehingga  seorang  Muslim  yang  baik
pastilah seorang anggota suatu bangsa yang baik. Kalau anggota
suatu  bangsa  terdiri  dari  beragam  agama,   atau   anggota
masyarakat  terdiri  dari  berbagai  bangsa,  hendaknya mereka
dapat menghayati firman-Nya dalam  Al-Quran  surat  Al-Baqarah
ayat 148:
 
     Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblat (arah yang
     ditujunya), dia menghadap ke arah itu. Maka
     berlomba-lombalah kamu (melakukan) kebaikan. Di mana
     saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu
     sekalian. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala
     sesuatu.[]
 
----------------
WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

Diberdayakan oleh Blogger.
ADIFAH 2220 © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute