Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label hukum islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hukum islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Agustus 2011

Hukum Islam di Era Demokrasi: Tantangan dan Peluang bagi Formalisasi Syari’at Islam di Indonesi

Hukum Islam di Era Demokrasi:
Tantangan dan Peluang bagi Formalisasi Syari’at Islam
di Indonesia Nurrohman

Pendahuluan
Di tengah kesulitan yang dihadapi oleh sebagian politisi Muslim untuk memasukkan tujuh kata dalam Piagam Jakarta ( Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluknya) kedalam konstitusi Indonesia karena pada akhirnya gagasan itu ditolak oleh mayoritas suara, Sukarno, president pertama Indonesia pernah menyatakan bahwa jika sebagian besar orang Indonesia benar-banar Muslim dan jika benar bahwa Islam merupakan agama yang hidup di hati rakyat, maka silahkan setiap pemimpin menggerakkan orang-orangnya agar delegasi Muslim menempati kursi parlemen… Dengan demikian undang-undang yang dikeluarkan oleh lembaga perwakilan rakyat ini dengan sendirinya akan menjadi Islami. Jika orang Kristen, misalnya, menginginkan agar setiap kata-kata dalam peraturan Negara Indonesia sejalan dengan Bible , maka silahkan mereka bekerja dengan sungguh-sungguh agar sebagian besar delegasi yang menduduki badan perwakilan rakyat di Indonesia adalah orang-orang Kristen.

Selasa, 24 Mei 2011

Islam dan Transformasi Budaya Lokal

Islam dan Transformasi Budaya Lokal

M. Jadul Maula

Tiadakah engkau lihat bagaimana Allah menciptakan metafora tentang “kalimat yang baik” sebagaimana “pohon yang baik”, akarnya kuat (terhunjam) dan cabangnya ke langit (menjulang). Pohon itu menghasilkan buahnya setiap saat, atas izin Tuhannya. Dan Allah mencipta metafora bagi manusia, supaya mereka ingat selalu. Juga, tentang metafora “kalimat yang buruk” seperti “pohon yang buruk”, yang tercerabut dari akar bumi, jadilah ia tanpa kekuatan. [Q.S. Ibrahim: 24-26]

PESANTREN DAN PERDAMAIAN REGIONAL

PESANTREN DAN PERDAMAIAN REGIONAL
Badrus Sholeh* dan Abdul Mun’im DZ**
*Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, UIN Jakarta, dan Peneliti Pusat Studi Perdamaian LP3ES Jakarta.**Direktur NU Online, dan Peneliti Senior CESDA-LP3ES Jakarta.

Pesantren di Indonesia berhasil melakukan adaptasi dengan perubahan lingkungannya. Kiprah komunitasnya seiring dengan tuntutan zaman, sesuatu yang berbeda dengan sistem pendidikan Islam di beberapa negara (madrasah di Pakistan, pondok di Malaysia). Dinamika mereka ditopang dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, yang peduli terhadap perkembangan pesantren. Beberapa pengamat pesantren melihat sebagai suksesnya pesantren dalam menghadapi tekanan luar, baik dari negara, masyarakat maupun global. Karl Steenbrink dan Zamakhsyari Dlofier memandang dinamika komunitas pesantren dipengaruhi beberapa aspek: sistem nilai pendidikannya yang fleksibel, kuatnya hubungan elemen tradisi pesantren, dan kebebasan yang diberikan oleh negara terhadap pertumbuhan lembaga pendidikan Islam. Dinamika ini berlangsung sejak masa kolonial, dengan mulainya jaringan ulama melayu dan Arab.

Senin, 23 Mei 2011

SIASAT KOMUNITAS ABULUNG DALAM MENGHADAPI REZIM SYARIAT

SIASAT KOMUNITAS ABULUNG DALAM MENGHADAPI REZIM SYARIAT
(Studi Kasus Kelompok Islam Marjinal di Takisung Kalimantan Selatan)
Oleh : Humaidy

A. Pendahuluan
Dalam konteks sosial, keberadaan agama mengemban dua fungsi sekaligus, yaitu memupuk persaudaraan dan perpecahan. Isu-isu keagamaan menjadi salah satu penyebab perang, keyakinan agama sering menimbulkan sikap tidak toleran, loyalitas agama hanya menyatukan sekelompok orang dan memisahkan dari kelompok lainnya. Keragaman agama dan keragaman aliran dalam interen agama itu sendiri justru menjadikan orang saling membenci dan tidak cukup untuk menjadikannya untuk saling berdamai dan saling mencintai.

Diberdayakan oleh Blogger.
ADIFAH 2220 © 2008. Design by :Yanku Templates Sponsored by: Tutorial87 Commentcute