Belum lama ini aqidah Umat Islam diserang lagi. Kali ini sasarannya, (lagi-lagi) kitab suci Al-Qur'an. Tidak mengherankan, sebab di antara kitab-kitab suci, Al-Qur'an merupakan satu-satunya yang dengan tegas menyatakan dirinya bersih dari keraguan (laa rayba fiihi), dijamin keseluruhannya (wa innaa lahuu la-haafizhuun), dan tiada tandingannya. Lebih dari itu, Al-Qur'an ibarat kompas pedoman arah dan penunjuk jalan, laksana obor penerang dalam kegelapan.
Yang membuat kalangan non-Muslim (khususnya "orientalis-missionaris" Yahudi dan Kristen) geram sekaligus hasad (dengki) adalah fakta bahwa dalam soal yang satu ini pun--yakni tentang keaslian, kebenaran dan kemukjizatan Al-Qur'an sebagai Kalaamullah-seluruh Umat Islam sepakat dan sependapat dari dulu sampai sekarang, dari Maroko sampai Merauke. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, orang Yahudi dan Kristen memang tak akan pernah berhenti, dengan segala macam cara, mempengaruhi Umat Islam agar mengikuti langkah mereka.
Mereka ingin Umat Islam melakukan apa yang mereka lakukan : menggugat, mempersoalkan ataupun mengutak-atik yang sudah jelas dan mapan, sehingga timbul keraguan terhadap yang sah dan benar.
Untuk memberi kesan seolah-olah obyektif dan autoritatif, orientalis-missionaris ini biasanya "berkedok" sebagai pakar (scholars/expert) dalam bahasa, sejarah, agama dan kebudayaan Timur, baik yang 'jauh' (Far Eastern, seperti Jepang, Cina dan India) maupun yang 'dekat' (Near Estern, seperti Persia, Mesir, dan Arabia).
